Rabu, 30 September 2015

Hindu Agama tertua

Agama tertua di Indonesia adalah agama Hindu dengan bukti adanya Kerajaan Kutai di Kalimantan dan Kerajaan Majapahit di Jawa.
Disusul dengan agama Budha dengan bukti adanya Candi Borobudur di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra...
Lantas bagaimana dengan 'mereka'?
'mereka' hanya lah pendatang di Nusantara ini, setelah masuk lalu dengan gencarnya berdakwah sehingga 'mereka' lah yang terbanyak. Dengan jumlah terbanyak, 'mereka' merasa hebat dan merasa mereka lah yang berhak memimpin Nusantara ini...
Intinya, Nusantara ini adalah awal nya milik Hindu dan Budha, bukan milik 'mereka'...jadi, jangan SONGONG lah mentang-mentang punya umat terbanyak kalau toh tinggal di tanah agama lain.....
Bagaimana dengan Kristen??
Meskipun juga pendatang, Kristen diam aja dan ga mau ikut campur...bahkan kadang tertawa melihat ke SONGONG an 'mereka' yang merasa paling benar, padahal........???

Artikel ajaran Agama Hindu

Mantra Sembahyang Agama Hindu
Di dalam segala jenis kurban suci, japa yang artinya mengulang-ulang nama suci Tuhan merupakan kurban suci tertinggi (Bhagavad-gita 10.25), .. di antara getaran-getaran suara Aku adalah “Om” yang bersifat rohani. Bhagavad-gita 10.35 : ”.. Diantara semua mantra, Akulah Gayatri ..”

“Mungkin engkau tidak dapat melakukan latihan rohani yang sulit seperti meditasi, tapa, yoga, dan sebagainya. Cukuplah jika engkau mengidungkan nama Tuhan. Jangan melakukan latihan yang tidak engkau mengerti. Ambillah jalan yang paling mudah yaitu namasmarana” yaitu pengulangan dan mengingat Nama-Nama Tuhan seperti : Japa, Sankirtana.  Sankirtana atau Bhajan adalah menyanyikan lagu-lagu kebhaktian.

Sedangkan Japa adalah pengulangan Nama Tuhan yang dipilih secara pribadi yang umumnya dilakukan dengan cara duduk seperti meditasi, misalnya pengucapan Nama Tuhan atau mantra : “Om Nama Sivaya”, “Om Sai Ram”, “Hari Om Tat Sat”, Mantra Hare Krishna, Mantra Gayatri, dll.

Mantra Gayatri (di Bali untuk versi yang lebih panjang adalah sembahyang Puja Tri Sandhya) yang dipanjatkan 3 kali sehari, pagi / subuh, siang dan sore menjelang malam.

Mantra Gayatri bisa diucapkan bersuara atau diucapkan di dalam hati, mata terpejam atau terbuka, sambil menghayati makna / arti mantra tersebut yang ditujukan kepada cahaya cemerlang Brahman, mantra diulang-ulang beberapa kali (japa), sedikitnya beberapa kali, misalnya 9 kali, idealnya 108 kali, lebih baik dilakukan pada waktu dan tempat yang sama / teratur, misalnya kalau setiap pagi selalu dilakukan tepat jam 5 pagi, sore harinya tepat jam 6 petang.

Posisi japa mantra bisa duduk bersila / bersimpuh, duduk di kursi atau berdiri, bisa menggunakan atau tanpa menggunakan Japa Mala (Tasbih) menghadap timur atau utara. Bagus menghadap ke timur karena matahari terbit dari timur serta menghadap searah dengan putaran bumi yang juga ke timur.

Namun kita tidak boleh memperlakukan Mantra Gayatri secara sembarangan, hati kita harus selalu murni (jauh dari maksud jahat, benci, dsb) dan di tempat yang suci (tidak selalu di tempat ibadah) dan melafalkan mantra dengan benar serta pemahaman arti mantra.

Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan, Gayatri menyelamatkan orang yang mengucapkannya. Mantra Gayatri ditujukan kepada Tuhan yang imanen transenden (Tuhan yang berada dalam kesadaran segala makhluk dan segala sesuatu, tetapi juga melampaui sesuatu).

Mengidungkan Mantra Gayatri membentuk, mengembangkan dan mempertajam kecerdasan dan kemampuan akal budi manusia.

Orang yang mengucapkan Mantra Gayatri secara teratur dengan penuh keyakinan akan memperoleh faedah seperti berikut:
Mantra Gayatri membebaskannya dari berbagai penyakit, menangkis atau mencegah segala kesengsaraan, penghapus dosa, keberuntungan, dll.

Para ilmuwan barat telah menemukan bahwa bila Mantra Gayatri diucapkan dengan aksen yang benar, lingkungan sekitarnya tampak diterangi oleh vibrasi yang ditimbulkan oleh mantra tersebut.

Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Diyoyonah Pracodayat

Ya Tuhan  yang menerangi tiga dunia, *
Engkaulah Tuhan yang kami sembah, asal semua ciptaan,
Kami bermeditasi ke arah Cahaya CemerlangMu,
Terangilah budhi kami. **

* Makrokosmos: tiga dunia : alam kasat mata, alam halus dan alam kausal. Brahman, cahaya rohani, ada di luar dan juga di dalam 3 dunia sebagai penyebab awal terciptanya 3 dunia tersebut. Mikrokosmos : phisik, mental dan jiwa.
** Karena selain Atman yang memang adalah diri sejati, maka dari badan kita, budhi lah yang paling halus atau paling tinggi.

Mantra ini juga bisa digunakan untuk mantra sebelum makan, sebelum tidur dan bangun tidur setidaknya 1 kali mantra.

Japa akhiri dengan : Om Shanti Shanti Shanti Om
Kita harus mengucapkan Shanti 3 kali, santih untuk memberikan kedamaian batin pada tiga hal dalam diri kita: badan, pikiran/budi/intelek, dan jiwa.

Sadhana (sembahyang, latihan rohani) merupakan proses yang kita gunakan untuk memisahkan kebenaran dari ketidak benaran sehingga mendapatkan kebenaran. Sembahyang, mendekat Tuhan, itu pada dasarnya untuk melupakan dan mengikis ikatan atau keinginan duniawi dan sifat buruk lainnya sehingga kemudian kita benar-benar “mendapatkan Tuhan” (moksha: pencerahan rohani, kebahagiaan abadi) dan anugerah lainnya yang mungkin kita perlukan.

“Seluruh mahluk dan alam semesta adalah manifestasi Brahman Yang Maha Esa, dengan demikian kita melihat kesatuan dalam segala sesuatu. Kita harus yakin sepenuhnya bahwa prinsip Ketuhanan, Tuhan yang cemerlang, ada dalam setiap manusia dan setiap benda. Kalau kita menyadari keberadaan Tuhan dalam setiap makhluk (sebagai Atman, percikan dari Brahman), dan menyadari kesatuan (keesaan) dalam semua yang tampak sebagai kebhinekaan ini, maka engkau tidak akan dapat lagi membenci orang lain.”

Jadi Sadhana itu seharusnya menyatu dalam kehidupan sehari-hari, karena kebebasan (Moksha) tidak berdasarkan pahala, tetapi kualitas / karakter yang baik yang diperoleh dari latihan rohani.

Dengan menghayati diri kita yang sejati dan kekal sebagai Atman di dalam hati, tinggalkan pikiran yang keliru bahwa diri kita adalah raga, merupakan salah satu sikap yang tepat untuk bersembahyang atau memuja Tuhan.
———–

Bhagavad-gita 10.20
O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk.

Bhagavad-gita 10.11
Untuk memperlihatkan karunia istimewa kepada mereka, Aku yang bersemayam di dalam hatinya, membinasakan kegelapan yang dilahirkan dari kebodohan dengan lampu pengetahuan yang cemerlang.

Bhagavad-gita 15.7
Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diri-Ku. Oleh karena kehidupan yang terikat, mereka berjuang dengan keras sekali melawan enam indria, termasuk pikiran.

Bhagavad-gita 9.22
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

“Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan
yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan,
akan Kutanggung bebannya dan Kuberi apa yang mereka butuhkan.”

Selasa, 29 September 2015

Mengapa kita Beragama Hindu?

Kita memeluk Agama Hindu karena:
1. Dilahirkan oleh orang tuan beragama hindu.
2. Ditakdirkan oleh Hyang Widhi.
3. Kembali ke agama leluhur.

Sekarang banyak saudara-saudara kita dari suku jawa akan kembali ke agama leluhurnya yaitu agama hindu.  Sesuai mitos, prabu raden wijoyo terakhir bersama leluhurnya majapahit meramalkan, bahwa kerajaan majapahit saat itu memang harus runtuh.  Tetapi, "setelah 500 thn kerajaan majapahit runtuh, para leluhur majapahit menagih,  agar keturunannya kembali ke agama Hindu"
Oleh karena itu,  masyarakat Bali dan jawa secara tidak disadari telah menyongsong masa baru ini,  nantinya pusat hindu tidak lagi berada di bali melainkan akan berpindah ke pulau jawa.  Sebagai bukti nyata,  telah berdiri pura mandara giri semeru agung di kaki gunung semeru jawa timur.

Sumber "WHDI,  KMHDI dan Pasraman propinsi lampung"

Senin, 21 September 2015

I Love Hindu

GAYATRI MANTRAM
FUNGSI DAN BERKAHNYA BAGI YANG MENGUCAPKAN

OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDDHAM

Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hafal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hafal dan mengenal mantra Gayatri mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra. Untuk itu saya mencoba menyampaikan sedikit pengalaman mempergunakan mantra Gayatri dalam kehidupan sehari-hari dan dampak sampingan bagi kita untuk meningkatkan tingkat spiritual masing-masing.

Sebelumnya, perlu diketahui yang lebih penting dari pada itu adalah pemahaman tentang keberadaan diri kita sendiri yaitu bahwa kita lahir ke dunia bukanlah seorang diri. Secara kodrat sudah ditentukan bahwa manusia itu lahir ke dunia bersama dengan delapan saudara kembarnya sehingga menjadi sembilan dengan dirinya. Empat berada di luar diri manusia dan lima berada di dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan “sedulur papat kelima pancer”. Sedulur papat kelima pancer ini adalah merupakan kunci utama dari berhasil atau tidaknya seseorang mengarungi kehidupan di dunia ini dan di dunia kelanggengan. Ketika kita mau makan, berangkat kerja, sembahyang dan sebagainya kita harus mengajak mereka bersama-sama, agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

1. BUNYI MANTRA GAYATRI

OM BHUR BUWAH SWAH
(Ya Tuhan, Engkau penguasa alam nyata, alam gaib, alam maha gaib)
TAT SAWITUR WARENYAM
(Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah)
BHARGO DEWASYA DHIMAHI
(Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi)
DHIYO YO NAH PRACODAYAT
(Terangilah jiwa hamba agar hamba berada dijalan yang lurus menuju Engkau)

2. MANTRA GAYATRI UNTUK MENGAGUNGKAN DAN MENYEMBAH
TUHAN

Dengan mengucapkan mantra Gayatri secara berulang-ulang minimal 108 kali sesering mungkin untuk mengagungkan, menyembah Dia, maka kita akan memperolah ketenangan jiwa dan pikiran, caranya :
Ucapkan pertama Om Awignham Astu Namo Siddham sebelum kita memulai suatu pekerjaan. Selanjutnya ajak saudara kita untuk sembahyang :
Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dine, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama menyembah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca.
Ucapkan OM TAT SAT EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN,
selanjutnya japa gayatri dengan khusuk.

3. MANTRA GAYATRI UNTUK MEMBUKA TUJUH CAKRA UTAMA YANG ADA
DALAM DIRI MANUSIA, DIBANTU PRANAYAMA DAN DAGDI KARANA

Dengan melakukan pranayama adi pada waktu pagi atau malam hari dengan cara :
Duduk bersila, pakaian agak longgar, alas duduk yang empuk lakukan:

a. Tarik nafas yang dalam dengan cepat langsung ditaruh diperut bagian bawah/puser,
tahan sebentar sambil baca mantra dalam hati
OM Ang Atmaya Brahma murtyayai namah.

b. Nafas dinaikkan ke dada ditahan sebentar sambil baca mantra dalam hati:
OM Ung Antaratmaya Wisnu Murtyayai namah

c. Nafas dinaikkan ke kepala dan ditahan semampunya dan jangan memaksakan, sambil
ucapkan mantra dalam hati:
OM Mang Paramaatmaya Iswara murtyayai namah

d. Nafas dibuang perlahan dengan mengucapkan mantra dalam hati:
Om Ung Rah Pat astraya namah sarwa winasaya swaha.

e. Lakukan dengan sabar dan ulangi beberapa kali semampunya. Kalau capek bisa istirahat
sebentar.

f. Setelah melakukan pranayama adi, lakukan dagdi karana yaitu posisi tetap duduk bersila lalu
ucapkan mantra :
OM Sariram kundam ityuktan
(Ya Tuhan, semoga engkau jadikan tubuh ini bagaikan tungku api)
Triyantah karanam indhanam
(yang sanggup membakar ketiga dunia dalam tubuh ini)
Sapta Ongkara mayo bahnir
(menjadikan tujuh Ongkara/cakra yang ada dalam tubuh hamba menjadi terbuka)
Bojananta udindhitah
(sehingga dapat menyimpan kekuatan prana)
OM Ang astra Kala Agni Rudra ya namah swaha
(Ya Tuhan, atas restumu semoga Api Rudra yang rahasia hadir dalam tubuh hamba)

Bayangkan diri kita seakan-akan berada di tengah-tengah gungungan api.

Setelah beberapa saat, ucapkan Amerta Mantra ;
OM Hram hrim sah Paramaciwa Raditya ya nama swaha
OM Ung Rah Phat astra ya namah.
Bayangkan ada tirta amerta yang mengguyur kepala kita terus mengalir keseluruh tubuh melalui tulang belakang.

g. Teruskan japa Gayatri Mantram 108 kali. Lebih banyak akan lebih bagus hasilnya.

4. MANTRA GAYATRI UNTUK MENDOAKAN PARA BHETARE DAN LELUHUR
KITA

Betare yang duduk di sebuah pure, dulunya adalah manusia sama seperti kita. Bedanya, beliau pada waktu hidupnya sudah mempelajari, mengamalkan weda sehingga mencapai tingkat kesucian tertentu menurut kaca mata Tuhan dan diijinkan untuk menjadi Bhetare (pelindung).
Contohnya : Mpu Gnijaya.
Terhadap beliau kita tidak perlu menyembah, akan tetapi mendoakan beliau, karena beliau belum mencapai tahapan puncak yaitu Aham Brahman Asmi (artinya masih bertugas/beryadnya sebagai pelindung).
Caranya :
Ya Tuhan yang Maha Sempurna, semoga Engkau menganugrahkan kesempurnaan yang sejati ya sejatinya sampurna kepada Bhetare yang duduk di pure ini (atau sebut nama purenya). Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 kepada beliau. Lakukan japa.
Bagi yang frekwensinya sudah nyambung, Bhetare akan hadir melalui penglihatan mata bathin.
Kepada para leluhur, orang tua (almarhum) dapat dilakukan sebagai berikut :

Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, semoga engkau mengampuni segala dosa dari para leluhur hamba, atau almarhum kedua orang tua hamba (sebut namanya), berikanlah tempat yang layak kepada mereka. Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 untuk beliau.
Leluhur yang kita doakan biasanya akan hadir dalam mimpi.

5. GAYATRI MANTRAM DIUCAPKAN PADA SAAT KITA MAU BERANGKAT
KERJA, MELIWATI TEMPAT-TEMPAT YANG ANGKER DAN MENAKUTKAN

Ketika kita mau berangkat kerja atau berniat pergi kesuatu tempat, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ada tata krama yang perlu dilakukan demi keselamatan kita di jalan, apalagi ketika pada malam hari kita melewati tempat yang angker. Caranya :
Sebelum keluar dari pintu utama rumah, kita berdiri dibawah pintu, tarik nafas dalam, jari telunjuk melintang di depan kedua lobang hidung, hembuskan nafas lalu rasakan, lobang mana yang terasa lebih kencang keluarnya udara. Kalau lobang sebelah kanan yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kanan. Kalau lobang sebelah kiri yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kiri. Kalau kedua-duanya sama, maka kaki yang duluan melangkah terserah kita.
Sebelum kita melangkahkan kaki, maka sebaiknya kita harus mengajak saudara kita :
Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama berangkat ke ….
Jagalah aku dalam perjalanan.
Ucapkan Gayatri Mantram 7 kali. Baru melangkahkan kaki sesuai dengan hasil yang diperolah tadi. Apabila kita merasa ketakutan ketika melewati suatu tempat, kita tinggal mengucapkan Gayatri Mantram saja.

Didalam kita mengucapkan Gayatri Mantram, jumlah bait yang diucapkan tergantung untuk apa kita bergayatri mantram,
a. Bila kita memohon pertolongan dari Tuhan, kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 7 kali (pitulungan), 70 kali atau 700 kali dan lebih bagus lagi kalau 7000 kali.
b. Bila kita memohon kesempurnaan kepada Tuhan, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 9 kali (sempurna), 99 kali atau 999 kali dan lebih bagus lagi 9999 kali.
c. Bila kita memohon jalan yang sukses atas suatu kegiatan/upacara, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 11 kali (pintu gerbang), 111 kali atau 1111 kali.

6. GAYATRI MANTRAM UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG SEDANG SAKIT.

Kepada orang yang sedang dicoba oleh Tuhan dengan memberikan penyakit, maka dengan mantra Gayatri kita bias membantu untuk memohon kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Caranya :
Ya Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, semoga Engkau anugrahkan kesembuhan kepada ……(sebutkan namanya) lalu panggil saudaranya yang sakit; sedulur papat kelima pancer si jabang bayi …….(sebut namanya yang sakit), bantulah saudaramu yang sedng sakit supaya sehat.

Barulah berjapa Gayatri sebanyak 77 kali atau 777 kali. Bila perlu, lebih bagus lagi dibantu dengan sarana air putih. Setelah selesai air putih diminumkan dan dibalurkan kebadan yang sakit. Dalam hal ini, pemohon harus dalam konsentrai penuh. Bagi yang sudah bisa menerima sinyal/petunjuk dari gaib, maka gambar yang terlihat oleh mata bhatin; bias orang yang sakit tersenyum sehat, bias sinar terang, ini artinya orang yang sedang sakit akan dianugrahkan kesembuhan. Kalau gambar yang diterima dari gaib berupa kuburan atau kobaran api yang membakar sesuatu, ini petunjuk bahwa memang sakit ini adalah jalannya untuk meninggal.
Namun tanda apapun yang diterima itu hanya untuk sendiri, jangan dulu disampaikan kepada orang lain, tidak boleh mendahului kehendak Tuhan.

7. GAYATRI MANTRAM KITA UCAPKAN PADA SAAT KITA AKAN TIDUR

Ketika kita berniat untuk tidur, maka sebelumnya kita sebut sadulur kita:
sadulurku papat kelime pancer kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina tunggal jalan, aku mau tidur, tolong jaga aku dari orang –orang yang jahat dan sirik. Om tat sat ekam eva adwitym Brahman,

selanjutnya baca Gayatri mantram 7 kali.

Gayatri Mantram adalah sebuah mantra yang khadamnya adalah kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sangat tergantung dari tingkat kesucian pikiran dan hati dari yang mengucapkannya. Walaupun sepuluh orang sama-sama mengucapkan mantra Gayatri, tapi hasil tidak akan sama tergantung kesucian hati dan pikiran masing-masing.
Namun demikian, dengan lebih sering berjapa Gayatri Mantram kita akan sedikit demi sedikit dapat mencapai kesucian itu. Teruslah berjapa dan jangan pernah bosan. Lambat tapi pasti, ketenangan jiwa akan mulai terasa. Sabar, sabar, dan sabar, karena sabar itulah kunci dari kesuksesan kita.

OM SANTI SANTI SANTI OM