Jumat, 28 Agustus 2015

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali


Hasil gambar untuk hari raya nyepi


Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali
Oleh Public Blog

   Hari raya suci Umat Hindu yang umum dirayakan adalah : Nyepi, Galungan, piodalan, Sarasvati puja, Sivaratri puja dan sebagainya. Diantara pelaksanaan hari raya suci tersebut yang paling menonjol adalah hari raya Nyepi jatuhnya dalam periode waktu satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat ini matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakni waktu yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi dilengkapi dengan upacara Tawur (Bhuta Yajna) yaitu hari Tilem Chaitra dengan ketentuannya dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan apabila melaksanakan tawur hendaknya jangan mencari hari lain selain Tilem bulan Chaitra.

    Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai dengan acara Melasti, kemudian sehari sebelum hari raya Nyepi dilangsungkan upacara Bhuta Yajna, dan sebagai hari penutup dilaksanakan Ngembak Agni sehari setelah hari raya Nyepi. Keseluruhan kegiatan ini dipusatkan di Pura Desa Puseh, dihadapan Tuhan Purusa atau Sri Visnu, dan Deva Brahma. Sebagai penyembah dalam kesadaran Krsna atas karunia sang guru kerohanian kita diberi penglihatan rohani dapat melihat pemandangan secara terang betapa agungnya kemulyaan Sri Visnu dengan nama lain Yajnapati, Tuhan penikmat dan tujuan akhir dari segala kurban suci bagi seluruh penghuni alam jagat raya.

Upacara Melasti

    Sebelum pelaksanaan Melasti, semua para deva (arca atau pratima) dari setiap pura dalam wilayah lingkungan kota atau desa diiring berkumpul di Pura Desa Puseh. Para deva satu-persatu berdatangan setelah lebih terdahulu bersujud menghadap Meru, Sri Visnu, kemudian distanakan berdampingan satu sama lain dalam satu bangunan memanjang yang disebut sebagai Balai Panjang atau Balai Agung. Keesokan harinya upacara Melasti dilangsungkan, Tuhan Sri Visnu dan para deva diiringi bersama-sama menuju laut atau ke mata air terdekat yang dianggap suci tergantung daerah masing-masing. Upacara Melasti tidak lain adalah upacara penyucian, prayascita. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan : “Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dari keterikatan dunia material,” sedangkan lontar Sundarigama menyatakan; “Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.” Air suci ini berasal dari muara sungai-sungai suci di India khususnya sungai Gangga.

    Dalam Srimad Bhagavatam skanda sembilan disebutkan Raja Bhagiratha melakukan pertapaan agar air Gangga turun ke bumi, kemudian memohon kepada ibu Gangga membebaskan leluhurnya. Ibu Gangga tersembur dari kaki padma Tuhan Sri Visnu, Beliau dapat membebaskan seseorang dari ikatan material. Nampak nyata bahwa siapapun yang secara teratur menyembah Ibu Gangga semata-mata dengan mandi di airnya dapat memelihara kesehatan dengan sangat baik dan perlahan-lahan menjadi penyembah Tuhan. Mandi air Gangga dipermaklumkan dalam semua susastra Veda, dan orang yang mengambil manfaat tentu sepenuhnya dibebaskan dari reaksi dosa.

   Seusai acara Melasti, pada suatu daerah desa tertentu sebelum Sri Visnu dan para deva menuju Pura Desa Puseh terlebih dahulu diiring (dituntun) ke pasar mengikuti acara mepasaran di hadapan Pura Melanting dimana berstana Devi Sri, Devi Laksmi, Devi Keberuntungan. Sekembalinya para deva dari acara mepasaran setelah terlebih dahulu menghadap Sri Visnu, akhirnya para deva berstana di Balai Agung. Sementara Sri Visnu berstana di Meru dan Deva Brahma berstana pada bangunan Gedong di sebelah Meru. Acara berstana ini disebut Nyejer dan berlangsung sampai selesai acara Bhuta Yajna, sehari menjelang hari raya Nyepi, pada sore hari.

    Selama beberapa hari seluruh warga dan adat setempat melakukan puja, mempersembahkan sesajen atau persembahan yang disebut prani. Pada saat ini pula umat memohon tirta Amrta air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya, semua makhluk, dan alam semesta. Melalui acara Nyejer terkandung pula permohonan umat kepada Sri Visnu dan para deva untuk menyaksikan upacara Bhuta Yajna yang dilakukan oleh umatnya.

Upacara Bhuta Yajna 

    Sehari sebelum hari raya Nyepi adalah hari terakhir dari serangkaian upacara di Pura Desa Puseh tersebut, tepatnya pada hari Tilem Chaitra (Kesanga) dilangsungkan upacara Bhuta Yajna yang dikenal dengan Pengerupukan yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sri Visnu, manusia dengan sesama makhluk ciptaan-Nya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup.

   Dalam Bhagawadgita 4.8 Sri Krsna bersabda : 
Paritranaya sadhunam vinasaya ca duksrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge. 

    Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma. Aku sendiri muncul pada setiap zaman. 

    Tentang Bhuta Yajna ini di dalam Agastya Parwa dinyatakan Bhuta Yajna adalah Tawur untuk kesejahteraan makhluk. Dalam hubungannya dengan hari raya Nyepi, wujud upacara Bhuta Yajna lebih dikenal Tawur Kesanga yang dilihat dari tingkat penyelenggaraannya dari tingkat yang paling besar : seratus tahun sekali disebut Ekadasa Rudra, setiap sepuluh tahun disebut Panca Wali Krama dan setiap tahun sekali disebut Tawur Kesanga.

Upacara Hari Raya Nyepi

   Menurut keputusan Seminar Kesatuan Tapsir terhadap Aspek-spek Agama Hindu tentang Hari Raya Nyepi (1988) bahwa Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, pada hakekatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

    Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut : (1). Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, (2). Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, (3). Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri, (4). Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” yaitu fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24) jam.

Upacara Ngembak Agni

    Hari Ngembak Agni jatuh setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma shanti baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

    Dharma shanti dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam kelurga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru terbinanya kerukunan dan perdamaian. Sedangkan dharma santi di lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan dharma wecana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung kekawin pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan serta memberikan “punia” atau berdarma sosial kepada yang patut menerimanya.

vidio pelaksanaan hari raya Nyepi :
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=y1Wv2q0W768#t=0

Sumber :
http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=23

Pemaknaan Hari Raya Saraswati

Pemaknaan Hari Raya Saraswati
Oleh : Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda, Giriya Kutuh, Kelurahan Kuta, Badung.
OM, Swastyastu.
Saraswati adalah nama dari seorang Dewi, yang merupakan Sakti dari Bhatara Brahma. Dewi Saraswati diyakini oleh umat Hindu merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Dewi-Nya ilmu pengetahuan. Di Bali, Beliau juga disebut dengan nama Sang Hyang Aji Saraswati sebagai Hyang-Hyanging Pangaweruh.
Dewi Saraswati diwujudkan sebagai sesosok Dewi yang amat cantik rupawan, bertangan empat masing-masing memegang Wina(rebab) , Pustaka (rontal), Genitri (tasbih/Japa mala), dan bunga teratai. Beliau dilukiskan sedang berdiri di atas seekor angsa, dan di sebelahnya ada burung merak. Oleh umat Hindu di India ,pemujaan terhadap Dewi Saraswati dilakukan dalam Murti Puja. Sedangkan di Bali dan di Indonesia pada umumnya, pemujaan terhadap Beliau dilakukan dalam bentuk rerainan atau hari raya.
Hari Raya untuk memuja keagungan Dewi Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari (enam bulan) sekali, yaitu pada hari Saniscara (sabtu) Umanis, Watugunung. Perayaan hari Saraswati di lakukan sebagai media untuk mengingatkan dan menyadarkan umat manusia betapa pentingnya arti ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Pengetahuan merupakan alat penopang di dalam kita mengarungi kehidupan, serta untuk meningkatkan kualitas kehidupan material dan spiritual menuju kehidupan yang lebih baik. Ada lima aspek yang perlu kita cermati dalam perayaan Hari Raya Saraswati sebagai hari Ilmu pengetahuan.Yaitu :
1. Faktor Edukatif dan Inspiratif ;
Sebagai faktor Edukatif ; secara sadar mendorong seseorang untuk melakukan proses pembelajaran diri, introspeksi diri dan keberanian untuk mengevaluasi diri, untuk dapat mewujudkan peningkatan kualitas diri, demi kesejahteraan bersama dalam kehidupan di masyarakat.
Sebagai faktor inspiratif ; Dapat mengilhami seseorang untuk selalu berusaha agar ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat bermanfaat bagi orang banyak/ masyarakat.
2. Faktor Trasformatif ; Sebagai faktor Traspormatif ilmu pengetahuan hendaknya mampu mengubah sikap mental dan prilaku seseorang, kearah yang lebih baik, dan untuk mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan diantara sesama umat manusia.
3. Faktor Integratif ; sebagai faktor Integratif hendaknya ilmu pengetahuan dapat mendorong tumbuhnya suatu keyakinan yang utuh, yang tercermin dalam pengamalan berupa tingkah laku yang baik dan benar di masyarakat. Bila ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak didayagunakan sebagai faktor Integratif, tidaklah ada gunanya ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
4. Faktor Kreatif ;Sebagai Faktor Kreatif ilmu pengetahuan dapat mendorong seseorang untuk selalu berkreasi dan mengadakan pembaharuan pada diri dan lingkungannya, menuju kualitas hidup dan masa depan yang lebih baik, damai dan sejahtera lahir bhatin.
5. Faktor Motivatif ; Sebagai Faktor Motivatif ilmu pengetahuan mendorong umat manusia untuk menentukan sikap memilih yang baik dan benar, dan dapat memotivasi untuk meningkatkan SDM, melalui pembelajaran diri terus menerus.
Karenanyalah kita sebagai umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai sumber daripada ilmu pengetahuan. Pada hari Saniscara Umanis Watugunung, semua kitab suci utamanya Weda-weda dan sastra-sastra Agama di kumpulkan sebagai lambang sthana untuk pemujaan terhadap Dewi Saraswati, dengan menghaturkan upakara Saraswati sebagai sembah sujud bhakti kita atas adanya ilmu pengetahuan di dunia ini. Upakara yang paling inti daripada upakara Saraswati terdiri dari : Banten Saraswati , Daksina , Pras, Ajuman putih kuning, Wewangian, dan air kumkuman (air kembang). Sesuai petunjuk lontar Sundharigama hendaknya upacara persembahan kepada Dewi Saraswati dilaksanakan pada pagi hari.
MITOLOGI DAN FILOSOFI.
Upakara dan upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali, sesunguhnyalah memiliki nilai-nilai filosofis, dan para generasi Hindu tidak henti-hentinya diarahkan untuk memahami filosofi yang tersembunyi di balik semua upacara tersebut. Sebab sesungguhnya ajaran-ajaran agama Hindu lebih banyak di sampaikan dalam bentuk upacara, yang mana perlu terus dikupas untuk mendapatkan makna yang terkandung di dalamnya.
Secara etimologi, kata Saraswati sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata « Saras » yang berarti sesuatu yang mengalir, seperti air ataupun ucapan. Sedangkan kata »Wati » berarti memiliki. Jadi kata Saraswati berarti sesuatu yang terus mengalir, atau sebagai suatu ucapan yang terus mengalir. Bagaikan ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya untuk di pelajari.
Sebuah kata atau ucapan baru akan mempunyai makna lebih bilamana didasari oleh ilmu pengetahuan. Sebab hanya ilmu pengetahuan (dalam arti luas) yang mampu menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh kebijaksanaan yang merupakan landasan untuk mencapai suatu kebahagiaan lahir bhatin (Ananda).
Pada saat pelaksanaan upacara hari raya Saraswati, umat Hindu di Bali khususnya merayakan dengan menghaturkan upakara kepada tumpukan lontar-lontar dan kitab sastra-sastra agama, serta buku-buku ilmu pengetahuan lain, sebagai wujud syukur atas ilmu pengetahuan yang telah terbit menerangi kehidupan manusia. Umat Hindu memandang » Aksara » sebagai lambang sthana Sang Hyang Aji Saraswati. Aksara yang termuat dalam bentuk lontar ataupun buku-buku adalah serangkaian huruf-huruf yang membentuk ilmu pengetahuan baik Apara Widya maupun Para Widya.
Apara widya adalah segala pengetahuan yang mengetengahkan tentang ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang keberadaan Bhuwana agung dan Bhuwana alit.
Para Widya adalah ilmu pengetahuan yang mengajarkan tetang hakekat Ketuhanan itu sendiri.
Di Bali dan di Indonesia pada umumnya tidak terdapat pelinggih khusus untuk memuja Sang Hyang aji Saraswati. Gambar maupun patung Dewi Saraswati yang kita kenal saat ini berasal dari India. Ada yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang duduk, ada pula yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang berdiri di atas seekor angsa dan bunga teratai. Pun ada yang melukiskan Beliau berdiri di atas setangkai bunga teratai (Padma), dengan ditemani seekor angsa dan merak yang berdiam di kedua sisinya atau mengapit Beliau. Perbedaan versi tersebut bukanlah suatu masalah yang harus di permasalahkan atau di perdebatkan. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai simbol-simbol yang ada untuk memperoleh sari-sari filosofis yang termuat di dalamnya.
Dewi Saraswati yang digambarkan sebagai seorang Dewi yang cantik rupawan, dimaksudkan untuk menyatakan dan melambangkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang demikian menarik dan mengagumkan, sehingga banyak yang tergila-gila untuk mengenalnya. Maka dari itu, seseorang yang dipenuhi oleh ilmu pengetahuan akan memancarkan aura daya tarik yang luar biasa, yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk mendekat. Dalam Kekawin Niti sastra dikatakan bahwa : Orang yang tanpa ilmu pengetahuan, amatlah tidak menarik ,meskipun masih muda usia ,berwajah tampan, dari keturunan yang baik ataupun bangsawan, karena orang seperti itu ibarat bunga teratai yang berwarna merah menyala namun tidak mimiliki bau yang harum, yang mampu menarik kumbang-kumbang untuk mendekat ,tiadalah gunanya.
Cakepan atau Lontar yang di bawa oleh Dewi Saraswati merupakan perlambang dari ilmu pengetahuan.
Genitri/Japa Mala , melambangkan bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnyalah sesuatu yang tiada akhirnya, tidak akan ada habis-habisnya untuk di pelajari, bagaikan putaran sebuah genitri/japamala yang tiada terputus.
Wina/Rebab adalah sejenis alat musik yang suaranya amat merdu dan melankolis, sebagai perlambang bahwa ilmu pengetahuan mengandung suatu keindahan dan nilai estetika yang sangat tinggi.
Bunga Padma/Teratai berdaun delapan adalah lambang dari pada Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa dengan Asteswarya-Nya,dan juga merupakan lambang kesucian yang menjadi hakekat daripada ilmu pengetahuan.
Angsa adalah sejenis unggas yang dikatakan memiliki sifat-sifat kebaikan , kebersamaan dan kebijaksanaan. Mereka memiliki kemampuan untuk memilih makanannya, meskipun makanan itu bercampur dengan lumpur atau air kotor. Yang dimasukkan kedalam perutnya hanyalah makanan-makanan yang baik saja, sedangkan yang kotor dan merugikan disisihkannya. Demikianlah seseorang yang telah memahami hakekat kesujatian dari ilmu pengetahuan, akan dapat memilah-milah secara bijak hal-hal yang baik dan benar serta menyisihkan hal-hal yang buruk.
Burung Merak adalah perlambang suatu kewibawaan, sehingga seseorang telah memahami hakekat ilmu pengetahuan dengan baik dan benar akan memancarkan aura kewibawaan, disegani dan dihormati oleh masyarakat.
Hari Raya Saraswati dan Kaitannya Dengan Keberadaan Pura Bale Agung.
Dalam rontal Purwadhi Gama Sesana yang memuat tentang keberadaan Dewi Saraswati serta kaitannya dengan keberadaan Pura Bale Agung di Desa Pakraman, diceritakan sebagai berikut :
Di ceritakan pada saat para Dewa-Dewa (Bhatara kabeh) di perintahkan oleh Sang Hyang Adhisuksma (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) untuk turun ke bumi dan mengajarkan umat manusia tentang hidup dan kehidupan, secara bersamaan Sang Hyang Iswara juga turun ke bumi, bertugas mengajarkan umat manusia di Desa Pakraman. Pada saat itu Beliau bernama Sang Hyang Ramadesa, bersthana di Pura Desa dan diiringi oleh Sang Hyang Catur Loka Phala, Sang Hyang Ramadesa kemudian memerintahkan salah satu pengikutnya yang bernama Bhagawan Wiswakarma, untuk membangun Salu Agung Apanjang, yang kita kenal sekarang dengan sebutan Bale Agung, yang merupakan tempat atau sthana Sang Hyang Ramadesa mengajar umat manusia (krama Desa Pakraman). Pada saat itu murid-murid Beliau tidak mampu menerima semua pelajaran-pelajaran yang di berikan oleh Beliau, karena pada saat itu umat manusia tidak merasa tertarik untuk mempelajari ilmu pengatahuan, sehingga semua pelajaran yang di berikan oleh Sang Hyang Ramadesa tidak bisa di pahami, masuk kanan keluar kiri. Dengan melihat keadaan umat manusia sedemikian rupa, Sang Hyang Ramadesa lalu pergi menghadap kepada Bhatara Brahma ,untuk memohon kehadapan Beliau agar berkenan mengijinkan sakti Beliau yaitu Dewi Saraswati untuk diajak oleh Sang Hyang Ramadesa mengajar umat manusia di Desa Pakraman. Dengan senang hati Bhatara Brahma menyambut baik permohonan Sang Hyang Ramadesa, dan mengijinkan Dewi Saraswati ikut menemani Sang Hyang Ramadesa.
Sesampainya Beliau berdua di Desa Pakraman atau di Bale Agung, kemudian Dewi Saraswati berkenan masuk kedalam relung hati umat manusia yang paling dalam (Bersthana didalam Intelektual manusia). Pada saat itu Sang Hyang Saraswati bernama Sang Hyang Drathidewi atau Sang Hyang Dredhadewi. Setelah Dewi Saraswati bersthana didalam intelektual umat manusia, mulailah kemudian timbul gairah atau keinginan dalam diri manusia untuk mengikuti pelajaran yang di berikan oleh Sang Hyang Ramadesa. Semenjak itu Sang Hyang Ramadesa berganti nama, dan bernama Sang Hyang Gurudesa, karena Beliau sebagai Guru yang memberikan pelajaran kepada umat manusia di Desa Pakraman.
Dengan melihat begitu semangatnya umat manusia di Desa pakraman untuk mengikuti pelajaran, maka kembali Beliau memerintahkan Bhagawan Wiswakarma untuk membangun pelinggih lagi sebagai sthana Bhatari Sri Gurunini dan Bhatari Sedhana yang bertempat di hulu Salu Agung Apanjang (Bale Agung). Ida Bhatari Sri Gurunini bertugas mengajarkan umat manusia terutama para wanitanya, tentang ilmu pengetahuan untuk menopang kehidupan dan ilmu pengetahuan tentang Swadharmaning pawistri. Bhatari Sedhana bertugas mengajarkan umat manusia tetang ilmu ekonomi, serta memberikan sedhana atau rejeki kepada umat manusia sesuai dengan karma-karma mereka. Beliau bertiga juga di sebut sebagai Bhatari Tri Purusa Dewi, yaitu Bhatari Sri, Bhatari Sedhana dan Bhatari Saraswati. Demikianlah secara singkat cerita hubungan antara Hari Raya Saraswati dengan keberadaan Pura Bale Agung.
Perayaan Hari Raya Saraswati sesungguhnya berlanjut terus sampai hari Tumpek Landep. Keseluruhan dari hari-hari tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sebagai pemaknaan dalam proses pembelajaran diri. Rangkaian upacara tersebut yakni :
Hari Raya Saraswati (Saniscara Umanis Watugunung).
Merupakan perayaan sebagai penghormatan kita dengan turunnya Dewi Saraswati sebagai perlambang ilmu pengetahun atau Hyang-Hyanging Pangawruh.
Banyu Pangewruh/Pinawruh(Redite Pahing Sinta)
Dirayakan sebagai rasa hormat kita atas berkenannya Sang Hyang Gurudesa (Iswara guru) melimpahkan pangewruhnya atau ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Dengan melakukan penyucian diri. Sebab tanpa bimbingan Beliau maka akan sangat sulit sesorang untuk dapat memahami keberadaan ilmu pengetahuan yang di pelajari. Oleh karena itu peran seorang Guru sangatlah penting dan mulia adanya sehingga wajib untuk di hormati.
Soma Rebek (Soma Pwon Sinta)
Dirayakan sebagai rasa hormat kita kehadapan Bhatari Sri Gurunini yang berkenan mengajarkan ilmu pengetahuan tentang penghidupan, ilmu pertanian (ilmu tentang kamerthan) kepada umat manusia, sebagai sarana untuk menopang kehidupan umat manusia. Beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu tentang kewanitaan atau Swadharmaning pawistri.
Sabuh Mas Sabuh perak (Anggara Wage Sinta)
Dirayakan sebagai perlambang penghormatan kita kehadapan Sang Hyang Mahadewa dan Bhatari Sedhana atas jasa-jasa Beliau yang telah mengajarkan umat manusia tentang ilmu ekonomi atau ilmu pebankan (menabung), serta tentang manfaat harta benda dalam menyokong kehidupan umat manusia. Beliau bertugas memberikan berkah atau rejeki kepada umat manusia sesuai dengan karma-karma mereka.
Hari Pager Wesi(Buda Kliwon Sinta).
Perayaan hari Pagerwesi sebagai perlambang beryoganya Sang Hyang Paramesthi Guru. Dan merupakan penghormatan kita kehadapan Beliau, dengan jalan mendekatkan diri melalui Tapa, Brata, Yoga dan Samadhi, sebagai jalan untuk melakukan introspreksi diri (mulat sarira) dan mengevaluasi diri demi terciptanya Pagar yang kuat (Pagerwesi) dalam diri kita, untuk dapat mewujudkan keharmonisan hidup ”Tri Hita Karana” Keharmonisan antara manusia dengan Sang Pencipta (Tuhan), Keharmonisan antara manusia dengan sesama umat manusia, keharmonisan manusia dengan alam lingkungannya. Untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Tumpek Landep(Saniscara Kliwon Landep)
Perayaan hari Tupek Landep merupakan penghormatan kita sebagai hari turunnya Sang Hyang Pasupati, sebagai Dewa ketajaman (Hyang-Hyanging Lelandep). Tumpek Landep merupakan hari pemberkahan atau hari samskara (penyucian). Pada hari ini kita mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Sang Hyang Pasupati, agar Beliau berkenan memberkahi kita ketajaman pikiran/intelektual serta perkataan/ucapan kita. Tanpa di berkahi ketajaman pikiran dan perkataan sulit bagi kita untuk memahami dan menghayati segala ilmu pengetahuan yang kita pelajari, serta menjabarkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengacu pada mitologi atau cerita diatas, rasanya sangatlah tepat bagi kita untuk merayakan Hari Raya Saraswati dilaksanakan di Pura Desa atau di Pura Bale Agung, sebagai sthana Sang Hyang Gurudesa (Sang Hyang Iswara Guru) yang merupakan Guru bagi umat manusia. Juga sebagi sthana turunnya Dewi Saraswati yang kemudian merasuki sanubari setiap insan manusia.
Perayaan Hari Raya Saraswati sesuai petunjuk lontar Purwadhi Gama Sesana, adalah bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas kita sebagai umat manusia, agar tercapai keseimbangan jiwa yang bermoral tinggi, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam tutur Purwadhi Gama Sesana juga di sebutkan bahwa yang menggantikan Sang Hyang Iswara Guru/Sang Hyang Gurudesa bersthana di Pura Bale Agung adalah putra Beliau yang bernama Sang Hyang Bregalungan. Dimana kata “ Bregalungan” memiliki makna sebagai berikut:
“Bre” artinya menumbuhkan.
“Ga” artinya Kebaikan atau kesucian.
“Lungan”artinya perbuatan atau prilaku.
Dengan demikian “Bregalungan”artinya agar senantiasa dapat menumbuhkan perbuatan-perbuaan yang baik dan benar yang berlandaskan ajaran Dharma.
Hari Raya Saraswati hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan pembelajaran diri dengan menumbuhkan perilaku atau perbuatan-perbuatan yang baik dan benar berlandaskan Dharma.
Demikianlah sekilas uraian tentang makna perayaan Saraswati sampai hari Tumpek landep, serta kaitannya dengan keberadaan Pura Bale Agung di Desa Pakraman di Bali. Semoga uraian singkat ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi umat sedharma. Dan tak lupa saya mohon maaf atas keterbatasan saya dalam menyajikannya.
Suksma.

*sumber :
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=456518267728729&id=99393884544

Makna Galungan dan Kuningan

Makna Galungan dan Kuningan



Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :
"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".

artinya :
"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".

          Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.


Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
         Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.
Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.
Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.


Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
         Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).
Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.
Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :
"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".
Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.
Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).



Macam - Macam Galungan

A. Galungan
Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi
Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.
Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.


sumber :
Parisada Hindu Dharma Indonesia
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=372&Itemid=2

Rabu, 26 Agustus 2015

Bagaimana Cara Sharing Folder Di Windows 7

Bagaimana Cara Sharing Folder Di Windows 7 
Jika pada postingan sebelumnya kita telah mengulas bagaimana cara sharing printer di jaringan komputer, maka untuk kali ini akan membahas bagaimana cara sharing file atau folder pada jaringan.
Bagaimana Cara Sharing Folder Di Windows 7
Salah satu keuntungan menggunakan jaringan komputer adalah memungkinkan pengguna untuk saling berbabagi baik dalam hal pemakaian hardware atapun sharing file atau folder.
Melakukan sharing folder tentu saja sangat penting bagi pengguna dalam sebuah lingkup jaringan, karena dengan demikian pengguna lain akan dapat dengan mudah mengakases atau mengambil data yang anda bagikan di dalam folder yang anda sharing tersebut.
Oke, langsung saja dibawah ini akan di jelaskan bagaiamana cara sharing folder yang cukup mudah untuk anda lakukan dalam sebuah lingkup jaringan yang menggunakan sistim operasi windows.
1# Pertama yang harus anda perhatikan adalah memastikan komputer anda telah terhubung dengan jaringan yang anda gunakan.
2# Kemudian pilih folder yang ingin anda sharing klik kanan folder tersebut dan klik Properties lihat gambar berikut ini klik untuk melihat ukuran penuh.
 share-folder-properties
 3# Berikutnya klik tab Sharing dan klik Share kemudian pilih Everyone jika anda ingin sharing folder tersebut ke semua pengguna dalam jaringan anda, lihat gambar berikut ini.
sharing-folder-network
 4#  Sekarang folder tersebut sudah berhasil anda share, lihat gambar berikut ini.
folder-sharing-done
5# Berikutnya untuk mengatur Permissions folder tersebut, yaitu memberikan ijin bagi pengguna lain dalam hal mengakes, mengubah apakah fullcontrol atau tidak anda boleh set dengan mengklik Advanced Sharing kemudian klik Permissions  dan pada pilihanAllow checklist pilihan Full Control lihat gambar berikut ini, klik gambar untuk melihat ukuran penuh.
sharing-folder-permissions

Sekarang folder tersebut sudah berhasil di sharing dan sudah bisa di buka pada komputer pengguna lainnya dalam jaringan tersebut. Untuk membuka folder yang telah di sharing pada komputer lainnya, pertama pastikan komputer tersebut telah terhubung ke jaringan, kemudian ketahui nama komputer atau ipaddress komputer yang melakukan sharing tersebut.
Caranya klik All Programs dan pada kotak pencarian ketikkan backslash dua kali atau \\ dan diikuti nama komputer yang melakukan sharing folder tersebut, jika windows meminta untuk memasukkan username dan password maka masukkan username dan password windows komputer yang membagikan folder tersebut kemudian tekan enter, maka folder yang diharing tersebut akan terbuka, lihat gambar berikut ini.
membuka-folder-sharing
Jika anda mengetahui ipaddress komputer yang membagikan folder sharing tersebut anda juga boleh mengetikkan di kotak pencarian tersebut, sebagai contoh\\192.168.10.167 dan tekan enter jika windows meminta username dan password network masukkan sesuai dengan username dan password windows komputer yang membagikan folder sharing tersebut, lihat gambar berikut ini.
Windows-network-password
Apabila anda melakukannya dengan benar maka folder yang disharing tersebut akan terbuka dan anda bisa melihat atau mengambil data yang dibagikan didalam folder tersebut.
Membuka-folder-sharing-network
Demikian ulasan bagaimana cara sharing folder di jaringan yang menggunakan sistim windows untuk kita ketahui, agar memudahkan kita untuk melakukan pertukaran data atau saling berbagi data dengan pengguna lainnya dalam sebuah lingkup jaringan.
Sekian artikel Bagaimana Cara Sharing Folder Di Windows 7 terimakasih sudah membaca semoga bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Susunan Kabel UTP (STRAIGHT dan CROSS)

Kabel UTP merupakan salah satu media transmisi yang paling banyak digunakan untuk membuat sebuah jaringan local (Local Area Network), selain karena harganya relative murah, mudah dipasang dan cukup bisa diandalkan. Sesuai namanya Unshielded Twisted Pairberarti kabel pasangan berpilin/terbelit (twisted pair) tanpa pelindung (unshielded). Fungsi lilitan ini adalah sebagai eleminasi terhadap induksi dan kebocoran. Sebelumnya ada juga kabel STP (Shielded Twisted Pair), untuk contoh gambarnya dapat dilihat dibawah:

perbedaan kabel UTP dan STP
   
Terdapat beberapa jenis kategori kabel UTP ini yang menunjukkan kualitas, jumlah kerapatan lilitan pairnya, semakin tinggi katagorinya semakin rapat lilitannya dan parameter lainnya seperti berikut ini:
  • Kabel UTP Category 1
    Digunakan untuk komunikasi telepon (mentransmisikan data kecepatan rendah), sehingga tidak cocock untuk mentransmisikan data.
  • Kabel UTP Category 2
    Mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai dengan 4 Mbps(Megabits per second)
  • Kabel UTP Category 3
    Digunakan pada 10BaseT network, mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai 1Mbps. 10BaseT kependekan dari 10 Mbps, Baseband, Twisted pair.
  • Kabel UTP Category 4
    Sering digunakan pada topologi token ring, mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai 16 Mbps
  • Kabel UTP Category 5
    mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai 100 Mbps, 
  • Kabel UTP Category 5e 
    mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai 1000 Mbps (1Gbps), frekwensi signal yang dapat dilewatkan sampai 100 MHz.
  • Kabel UTP Category 6
    Mampu mentransmisikan data dengan kecepatan sampai 1000 Mbps (1Gbps), frekwensi signal yang dapat dilewatkan sampai 200 MHz. Secara fisik terdapat separator yg terbuat dari plastik yang berfungsi memisahkan keempat pair di dalam kabel tersebut.
  • Kabel UTP Category 7 gigabit Ethernet (1Gbps), frekwensi signal 400 MHz
Untuk pemasangan kabel UTP, terdapat dua jenis pemasangan kabel UTP yang umum digunakan pada jaringan komputer terutama LAN, yaitu Straight Through Cable dan Cross Over Cable

Kabel straight
Kabel straight merupakan kabel yang memiliki cara pemasangan yang sama antara ujung satu  dengan ujung yang lainnya. Kabel straight digunakan untuk menghubungkan 2 device yang berbeda.

Urutan standar kabel straight adalah seperti dibawah ini yaitu sesuai dengan standar TIA/EIA 368B (yang paling banyak dipakai) atau kadang-kadang juga dipakai  sesuai  standar TIA/EIA 368A sebagai berikut:

kabel jaringan model straight

Contoh penggunaan kabel straight adalah sebagai berikut :
  1. Menghubungkan antara computer dengan switch
  2. Menghubungkan computer dengan LAN pada modem cable/DSL
  3. Menghubungkan router dengan LAN pada modem cable/DSL
  4. Menghubungkan switch ke router
  5. Menghubungkan hub ke router
Kabel cross over
Kabel cross over merupakan kabel yang memiliki susunan berbeda antara ujung satu dengan
ujung dua. Kabel cross over  digunakan untuk menghubungkan 2 device yang sama. Gambar dibawah adalah susunan standar kabel cross over.

kabel jaringan model cross over

Contoh penggunaan kabel cross over adalah sebagai berikut :
  1. Menghubungkan 2 buah komputer secara langsung
  2. Menghubungkan 2 buah switch
  3. Menghubungkan 2 buah hub
  4. Menghubungkan switch dengan hub
  5. Menghubungkan komputer dengan router
Dari 8 buah kabel yang ada pada kabel UTP ini (baik pada kabel straight maupun cross over) hanya 4 buah saja yang digunakan untuk mengirim dan menerima data, yaitu kabel pada pin no 1,2,3 dan 6.

Membuat kabel Straight dan Cross Over
Untuk membuat sebuah kabel jaringan menggunakan kabel UTP ini terdapat beberapa peralatan yang perlu kita siapkan, yaitu kabel UTP,  Connector RJ-45, Crimping tools dan RJ-45 LAN Tester, contoh gambarnya seperti dibawah ini:

RJ45 Tang Crimping RJ45 LAN Tester

Praktek membuat kabel Straight
  1. Kupas bagian ujung kabel UTP, kira-kira 2 cm
  2. Buka pilinan kabel, luruskan dan urutankan kabel sesuai standar TIA/EIA 368B
  3. Setelah urutannya sesuai standar, potong dan ratakan ujung kabel,
  4. Masukan kabel  yang sudah lurus dan sejajar tersebut ke dalam konektor RJ-45, dan pastikan semua kabel posisinya sudah benar.
  5. Lakukan crimping menggunakan crimping tools, tekan crimping tool dan pastikan semua pin (kuningan) pada  konektor RJ-45 sudah “menggigit” tiap-tiap kabel.
  6. Setelah selesai pada ujung yang satu, lakukan lagi pada ujung yang lain
  7. Langkah terakhir adalah menge-cek kabel yang sudah kita buat tadi dengan menggunakan LAN tester, caranya masukan masing-masing ujung kabel (konektor RJ-45) ke masing2 port yang tersedia pada LAN tester, nyalakan dan pastikan semua lampu LED menyala sesuai dengan urutan kabel yang kita buat.
  8. Dibawah ini adalah contoh ujung kabel UTP yang telah terpasang konektor RJ-45 dengan benar, selubung kabel (warna biru) ikut masuk kedalam konektor, urutan kabel dari kiri ke kanan (pada gambar dibawah ini urutan pin kabel dimulai dari atas ke bawah).
pemasangan kabel UTP ke konektor RJ-45

Demikianlah sekilas penjelasan tentang kabel UTPcategory kabel UTPstandar urutan kabel straight dan cross over dan cara membuat kabel jaringan straight menggunakan crimping tools, semoga bisa membantu.

Minggu, 23 Agustus 2015

KISAH LUBDAKA MENUJU SWARGALOKA

KISAH LUBDAKA MENUJU SWARGALOKA

kisah lubdaka
Lubdaka adalah seorang kepala keluarga hidup di suatu desa menghidupi keluarganya dengan berburu binatang di hutan. Hasil buruannya sebagian ditukar dengan barang-barang kebutuhan keluarga, sebagian lagi dimakan untuk menghidupi keluarganya. Dia sangat rajin bekerja, dia juga cukup ahli sehingga tidak heran bila dia selalu pulang membawa banyak hasil buruan.
Hari itu Lubdaka berburu sebagaimana biasanya, dia terus memasuki hutan, aneh pikirnya kenapa hari ini tak satupun binatang buruan yang muncul, dia semua peralatan berburu digotongnya tanpa kenal lelah, dia tidak menyerah terus memasuki hutan. Kalo sampe aku pulang gak membawa hasil buruan nanti apa yang akan dimakan oleh keluargaku..?, semangatnya semakin tinggi, langkahnya semakin cepat, matanya terus awas mencari-cari binatang buruan, namun hingga menjelang malam belum juga menemukan apa yang ia harapkan, hari telah terlalu gelap untuk melanjutkan kembali perburuannya, dan sudah cukup larut jika hendak kembali ke pernaungan.
Ia memutuskan untuk tinggal di hutan, namun mencari tempat yang aman terlindungi dari ancaman bahaya, beberapa hewan buas terkenal berkeliaran di dalam gelapnya malam guna menemukan mangsa yang lelap dan lemah. Sebagai seorang pemburu tentu dia tahu betul dengan situasi ini. Tak perlu lama baginya guna menemukan tempat yang sesuai, sebuah pohon yang cukup tua dan tampak kokoh di pinggir sebuah telaga mata air yang tenang segera menjadi pilihannya.
Dengan cekatan dari sisa tenaga yang masih ada, ia memanjat batang pohon itu, melihat sekeliling sekejap, ia pun melihat sebuah dahan yang rasanya cukup kuat menahan beratnya, sebuah dahan yang menjorok ke arah tengah mata air, di mana tak satu pun hewan buas kiranya akan bisa menerkamnya dari bawah, sebuah dahan yang cukup rimbun, sehingga ia dapat bersembunyi dengan baik. Singkat kata, ia pun merebahkan dirinya, tersembunyikan dengan rapi di antara rerimbunan yang gulita.
Ia merasa cukup aman dan yakin akan perlindungan yang diberikan oleh tempat yang telah dipilihnya. Sesaat kemudian keraguan muncul dalam dirinya. Kalo sampe dia tertidur dan jatuh tentu binatang buas seperti macan, singa, dll akan dengan senang hati memangsanya.
Ia resah dan gundah, badannya pun tak bisa tenang, setidaknya ia harapkan badannya bisa lebih diam dari pikirannya, itulah yang terbaik bagi orang yang dalam persembunyian. Namun nyatanya, badan ini bergerak tak menentu, sedikit geseran, terkadang hentakan kecil, atau sedesah napas panjang. Tak sengaja ia mematahkan beberapa helai daun dari bantalannya yang rapuh, entah kenapa Lubdaka tiba-tiba memandangi daun-daun yang terjatuh ke mata air itu. Riak-riak mungil tercipta ketika helaian daun itu menyentuh ketenangan yang terdiam sebelumnya. Ia memperhatikan riak-riak itu, namun ia tak dapat memikirkan apapun. Beberapa saat kemudian, riak-riak menghilang dan hanya menyisakan bayang gelombang yang semakin tersamarkan ketika masuk ke dalam kegelapan. Ia memetik sehelai daun lagi dan menjatuhkannya, kembali ia menatap, dan entah kenapa ia begitu ingin menatap. Ia memperhatikan dirinya, bahwa ia mungkin bisa tetap terjaga sepanjang malam, jika ia setiap kali menjatuhkan sehelai daun, dan mungkin ia bisa menyingkirkan ketakutannya, setidaknya karena ia akan tetap terjaga, itulah yang terpenting saat ini.
Lubdaka – si pemburu, kini menjadi pemetik daun, guna menyelamatkan hidupnya. Ia memperhatikan setiap kali riak gelombang terbentuk di permukaan air akan selalu riak balik, mereka saling berbenturan, kemudian menghilang kembali. Hal yang sama berulang, ketika setiap kali daun dijatuhkan ke atas permukaan air, sebelumnya ia melihat itu sepintas lalu setiap kali ia berburu, baru kali ia mengamati dengan begitu dekat dan penuh perhatian, bahwa gerak ini, gerak alam ini, begitu alaminya. Sebelumnya, ia mengenang kembali, ketika ia berburu, yang selalu ia lihat adalah si mangsa, dan mungkin si mara bahaya, namun tak sekalipun ia sempat memperhatikan hal-hal sederhana yang ia lalui ketika ia berburu. Lubdaka hanya ingat, bahwa di rumahnya, ada keluarga yang bergantung pada buruannya, dan ia hanya bisa berburu, itulah kehidupannya, itulah keberadaannya.
Ia terlalu sibuk dalam rutinitas itu, ya… sesaat ia menyadari bahwa hidup ini seakan berlalu begitu saja, ia bahkan tak sempat berkenalan dengan sang kehidupan, karena ia selalu sbuk lari dari si kematian, ia berpikir apakah si kematian akan datang ketika si kelaparan menyambanginya, ataukah si kematian akan berkunjung ketika si mara bahaya menyalaminya ketika ia lalai. Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah upaya bertahan hidup. Ia tak tahu apapun selain itu, mungkin ia mengenal mengenal kode etik sebagai seorang pemburu, dan aturan moralitas atau agama, namun semua itu hanya sebatas pengetahuan, di dalamnya ia melihat, bahwa dirinya ternyata begitu kosong dan dangkal. Keberadaannya selama ini, adalah identitasnya sebagai seorang pemburu, ia tak mengenal yang lainnya.
Sesekali ia memetik helai demi helai, dan menatap dengan penuh, kenapa ia tak menyadari hal ini sebelumnya, ia bertanya pada dirinya, ia melihat kesibukan dan rutinitasnya telah terlalu menyita perhatiannya. Dalam kehinangan malam, dan sesekali riak air, ia bisa mendengar sayup-sayup suara malam yang terhantarkan bagai salam oleh sang angin, ia pun terhenyak, sekali lagi, ia tak pernah mendengarkan suara malam seperti saat ini, biasanya ia telah terlelap setelah membenahi daging buruannya dan santap malam sebagaimana biasanya.

Terdengar lolongan srigala yang kelaparan tak jauh dari tempatnya berada, secara tiba-tiba ia mengurungkan niatnya memetik daun. Jantungnya mulai berdegup kencang, Lubdaka tahu, pikirannya berkata bahwa jika ia membuat sedikit saja suara, si pemilik lolongan itu bisa saja menghampirinya, dan bisa jadi ia akan mengajak serta keluarga serta kawan-kawannya untuk menunggu mangsa lesat di bawah pohon, walau hingga surya muncul kembali di ufuk Timur. Ia berusaha memelankan napasnya, dan menjernihkan pikirannya. Walau ia dapat memelankan napasnya, namun pikirannya telah melompat ke beberapa skenario kemungkinan kematiannya dan bagaimana sebaiknya lolos dari semua kemungkinan itu. Beberapa saat kemudian, ketenangan malam mulai dapat kembali padanya. Ia mendengarkan beberapa suara serangga malam, yang tadi tak terdengar, ah… ia ingat, ia terlalu ketakutan sehingga sekali lagi tak memperhatikan. Sebuah helaan napas yang panjang, ia masih hidup, dan memikirkan kembali bagaimana ia berencana untuk lolos dari kematian yang terjadi, ia pun tersenyum sendiri, ia cukup aman di sini. Namun Lubdaka melihat mulai melihat sesuatu dalam dirinya, yang dulu ia pandang sambil lalu, sesuatu yang yang ia sebut ketakutan. Lubdaka menyadari bahwa ia memiliki rasa takut ini di dalam dirinya, sesuatu yang bersembunyi di dalam dirinya, ia mulai melihat bahwa ia takut terjatuh dari pohon, ia takut dimangsa hewan buas, bahkan ia takut jika tempat persembunyiannya disadari oleh hewan-hewan yang buas, ia takut tak berjumpa lagi dengan keluarganya. Setidaknya ia tahu saat ini, ia berada di atas sini, karena takut akan tempat yang di bawah sana, tempat di bawah sana mungkin akan memberikan padanya apa yang disebut kematian. Dan ketakutan ini begitu mengganggunya.
Ia kembali memetik sehelai daun dan menjatuhkannya ke mata air, namun secara tak sadar oleh kegugupannya, ia memetik sehelai daun lagi dengan segera, secepat itu juga ia sadar bahwa tangannya telah memetik sehelai daun terlalu cepat. Ia memandangi helaian daun itu, di sinilah ia melihat sesuatu yang sama dengan apa yang ia takutkan, ia melihat dengan jelas sesuatu pada daun itu, sesuatu yang disebut kematian. Daun yang ia pisahkan dari pohonnya kini mengalami kematian, namun daun itu bukan hewan atau manusia, ia tak bisa bersuara untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, ia tak dapat berteriak atau menangis kesakitan, ia hanya … hanya mati, dan itulah apa yang si pemburu lihat ketika itu.
Selama ini Lubdaka selalu melihat hewan-hewan yang berlari dari kematiannya dan yang menjerit kesakitan ketika kematian yang dihantarkan sang pemburu tiba pada mereka, Lubdaka telah mengenal sisi kematian sebagai suatu yang menyakitkan, dan kengerian yang timbul dari pengalamannya akan saksi kematian, telah menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia melihat ia sendiri telah menjadi buruan akan rasa takutnya. Lubdaka telah melihat bentuk kematian di luar sana, termasuk yang kini dalam kepalan tangannya, ia kini masuk ke dalam dirinya, dan ingin melihat kematian di dalam dirinya, namun semua yang ia temukan hanyalah ketakutan akan kematian, ketakutan yang begitu banyak, namun si kematian itu sendiri tak ada, tak nyata kecuali bayangan kematian itu sendiri. Lubdaka pun tersenyum, aku belum bertemu kematian, yang menumpuk di sini hanyalah ketakutan, hal ini begitu menggangguku, aku tak memerlukan semua ini. Lubdaka melihat dengan nyata bahwa ketakutannya sia-sia, ia pun membuang semua itu, kini ia telah membebaskan dirnya dari ketakutan. Ia pun melepas tangkai daun yang mati itu dari genggamanannya, dan jatuh dengan begitu indah di atas permukaan air. Diapun tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siva (Siva Ratri). Dimana Siva sedang melakukan tapa brata yoga semadi. Barang siapa pada malam itu melakukan brata (mona brata: tidak berbicara, jagra: Tidak Tidur, upavasa: Tidak makan dan minum) maka mereka akan dibebaskan dari ikatan karma oleh Siva.
Ufuk Timur mulai menunjukkan pijar kemerahan, Lubdaka memandangnya dari celah-celah dedaunan hutan, dalam semalam ia telah melihat begitu banyak hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kini ia telah berkenalan dengan kehidupan dan melepas ketakutan-ketakutannya, ia telah mulai mengenal semua itu dengan mengenal dirinya.
Lubdaka begitu senang ia dapat tetap terjaga walau dengan semua yang ia alami dengan kekalutan dan ketakutan, kini sesuatu yang lama telah padam dalam dirinya, keberadaannya begitu ringan, tak banyak kata yang dapat melukiskan apa yang ia rasakan, begitu hening, sehingga ia bisa merasakan setiap gerak alami kehidupan yang indah ini, setiap tiupan yang dibuat oleh angin, dan setiap terpaan sinar yang menyentuhnya. Kini sang pemburu memulai perjalanannya yang baru bersama kehidupan.
Dia menyadari bahwa berburu bukanlah satu-satunya pilihan untuk menghidupi keluarganya. Setelah dia melewati perenungan di malam tersebut, kesadaran muncul dalam dirinya untuk merubah jalan hidupnya. Dia mulai bercocok tanam, bertani hingga ajal datang menjemputnya.
Saat dia meninggal, Atmanya (Rohnya) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma (memati-mati). Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing-masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.
Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke negara loka.
Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya. Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan upavasa/puasa) salam Siva Ratri/Malam Siva, sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani. Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri).
Di malam Siva Ratri ada tiga brata yang harus dilakukan:
1. Mona: Tidak Berbicara
2. Jagra: Tidak Tidur
3. Upavasa: Tidak Makan dan Minum
Siva Ratri datang setahun sekali setiap purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka.