Senin, 05 Oktober 2015

DOA dan MANTRAM DOA SEHARI-HARI MENURUT HINDU

DOA dan MANTRAM
DOA SEHARI-HARI MENURUT HINDU

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Buku ini di-punia-kan kepada umat Hindu di mana pun berada, sebagai sebuah Jnyana-Yadnya dari kami, dengan harapan dapat digunakan di saat bersembahyang baik dalam rangka suatu upacara tertentu maupun dalam kehidupan sehari-hari.Kita mengetahui bersama bahwa pada dewasa ini umat Hindu sedang menghadapi tantangan yang cukup berat sebagai dampak pengaruh globalisasi dunia yang tidak hanya menyangkut bidang politik, ekonomi,sosial, maupun budaya, tetapi juga telah memasuki bidang spiritual. Oleh karena itu umat Hindu, khususnya kaum muda, pelajar, dan Mahasiswa perlu mempunyai pegangan yang teguh dalam ke-Hindu-an mereka, antara lain dalam mengucapkan doa, puja, dan mantra yang tepat dan benar.

Dalam hubungan itu, kami dari Lembaga Stiti Dharma, yakni sebuah LSM yang berdiri di Singaraja Bali tanggal 16 Nopember 2005, berupaya menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk menegakkan Hindu yang kokoh di mana para pemeluknya berpegang teguh pada ajaran Trihita Karana,yakni

1.Memelihara bhakti yang luhur kepada Hyang Widhi.

2.Menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama umat manusia,

melimpahkan kasih sayang, dan mencintai semua mahluk di bumi.

3.Memelihara alam dan lingkungan agar tetap lestari.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Putu  Setia dari Penerbit Pustaka Manikgeni yang telah menghimpun doa-doa dalam buku ini, dan juga kepada Dewan Pengelola Dana Punia Peduli Umat Majalah Hindu Raditya, yang telah membiayai penerbitan buku kecil yang khusus disumbangkan ini.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Singaraja, 1 Januari, 2006

LEMBAGA STITI DHARMA

MARI BERSEMBAHYANG

Pada umumnya, sebelum melakukan persembahyangan –baik dengan Puja Trisandya maupun Panca Sembah– didahului dengan penyucian badan dan sarana persembahyangan. Urutannya sebagai berikut:

1.Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini:

Om prasada sthiti sarira siwa suci nirmalàya namah swàha

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa, hamba-Mu  telah duduk tenang, suci, dan tiada noda.

2.Kalau tersedia air bersihkan tangan pakai air. Kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram:

Om suddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga  pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan).

Lalu, posisi tangan dibalik. Kini tangan kiri ditengadahkan di atas tangan kanan dan ucapkan mantram:

Om ati suddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kiri).

3.Kalau tersedia air (maksudnya air dari rumah, bukan tirtha), lebih baik berkumur sambil mengucapkan mantram di dalam hati:

Om Ang waktra parisuddmàm swàha

atau lebih pendek:

Om waktra suddhaya namah

Artinya: Ya, Tuhan sucikanlah mulut hamba.

4.Jika tersedia dupa, peganglah dupa yang sudah dinyalakan itu dengan sikap amusti, yakni tangan dicakupkan, kedua ibujari menjepit pangkal dupa yang ditekan oleh telunjuk tangan kanan, dan ucapkan mantra:

Om Am dupa dipàstraya nama swàha

Artinya: Ya, Tuhan/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinar-Mu.

5.Setelah itu lakukanlah puja Trisandya. Jika memuja sendirian dan tidak hafal seluruh puja yang banyaknya enam bait itu, ucapkanlah mantram yang pertama saja (Mantram Gayatri) tetapi diulang sebanyak tiga kali. Mantram di bawah ini memakai ejaan sebenarnya, “v” dibaca mendekati “w”. Garis miring di atas huruf, dibaca lebih panjang. Permulaan mantram Om bias diucapkan tiga kali, bisa juga sekali sebagaimana teks di bawah ini:

Mantram Trisandhyà

Om bhùr bhvah svah

tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi

dhiyo yo nah pracodayàt

Tuhan adalah bhùr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia
berikan semangat pikiran kita.

Om Nàràyana evedam sarvam

yad bhùtam yac ca bhavyam

niskalanko nirañjano nirvikalpo

niràkhyàtah suddo deva eko

Nàràyano na dvitìyo’sti kascit

Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apayang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Om tvam sivah tvam mahàdevah

ìsvarah paramesvarah

brahmà visnusca rudrasca

purusah parikìrtitah

Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa,
Iswara, Parameswara, Brahmà, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Om pàpo ham pàpakarmàham

pàpàtmà pàpasambhavah

tràhi màm pundarikàksa

sabàhyàbhyàntarah sucih

Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba
papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.

Om ksamasva màm mahàdeva

sarvapràni hitankara

màm moca sarva pàpebyah

pàlayasva sadà siva

Ya Tuhan, ampunilah hamba HyangWidhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oh Hyang Widhi.

Om ksàntavyah kàyiko

Dosah ksàntavyo vàciko mama

ksàntavyo mànaso dosah

tat pramàdàt ksamasva màm

Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badanhamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.

Om sàntih, sàntih, sàntih,

Om Ya Tuhan,semoga damai, damai, damai selamanya.

Setelah selesai memuja Trisandya dilanjutkan Panca Sembah. Kalau tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) dan langsung memuja dengan Panca Sembah, maka setelah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa. Ambil bunga atau kawangen itu diangkat di hadapan dada dan ucapkan mantram ini:

Om puspa dantà ya namah swàha

Artinya: Ya Tuhan, semoga bunga ini cemerlang dan suci.

Kramaning Sembah (Panca Sembah)

Urutan sembahyang ini sama saja, baik dipimpin oleh pandita atau
pemangku, maupun bersembahyang sendirian. Cuma, jika dipimpin pandita yang sudah melakukan dwijati, ada kemungkinan mantramnya lebih panjang. Kalau hafal bisa diikuti, tetapi kalau tidak hafal sebaiknya lakukan mantram-mantram pendek sebagai berikut:

1.Dengan tangan kosong (sembah puyung). Cakupkan tangan kosong dan    pusatkan pikiran dan ucapkan mantram ini:
Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.

2.Sembahyang dengan bunga, ditujukan kepada Hyang Widhi dalam

wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya. Ucapkan mantram:

Om Adityasyà param jyoti

rakta tejo namo stute

sweta pankaja madhyastha

bhàskaràya namo stute

Artinya: Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar  merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.

3. Sembahyang dengan kawangen. Bila tidak ada, yang dipakai adalah bunga. Sembahyang ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bias berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang. Mantram dibawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat:

Om nama dewa adhisthanàya

sarwa wyapi wai siwàya

padmàsana eka pratisthàya

ardhanareswaryai namo namah

Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yangluhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yangbersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepadaArdhanaresvari hamba memuja.

4.Sembahyang dengan bunga atau kawangen untuk memohon

waranugraha. Usai mengucapkan mantram, ada yang memperlakukan bunga itu langsung sebagai wara-nugraha, jadi tidak”dilentikkan/dipersembahkan” tetapi dibungakan di kepala (wanita) atau di atas kuping kanan (laki-laki). Mantramnya adalah:

Om anugraha manoharam

dewa dattà nugrahaka

arcanam sarwà pùjanam

namah sarwà nugrahaka

Dewa-dewi mahàsiddhi

yajñanya nirmalàtmaka

laksmi siddhisça dirghàyuh

nirwighna sukha wrddisca

Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.

5.Sembahyang dengan cakupan tangan kosong, persis seperti yang

pertama. Cuma sekarang ini sebagai penutup. Usai mengucapkan mantram,tangan berangsur-angsur diturunkan sambil melemaskan badan dan pikiran,Mantramnya:

Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha.

Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan,maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hambakedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.

Untuk memuja di Pura atau tempat suci tertentu, kita bisa menggunakan mantram lain yang disesuaikan dengan tempat dan dalam keadaan bagaimana kita bersembahyang. Yang diganti adalah mantram sembahyang urutan ketiga dari Panca Sembah, yakni yang ditujukan kepada Istadewata.

Berikut ini contohnya: Untuk memuja di Padmasana, Sanggar Tawang, dapat digunakan salah satu contoh dari dua mantram di bawah ini:

Om, àkàsam nirmalam sunyam,

Guru dewa bhyomàntaram,

Ciwa nirwana wiryanam,

rekhà Omkara wijayam,

Artinya: YaTuhan, penguasa angkasa raya yang suci dan hening. Guru rohani yang suci berstana di angkasa raya. Siwa yang agung penguasa nirwana sebagai Omkara yang senantiasa jaya, hamba memujaMu.

Om nama dewa adhisthanàya,

sarva wyàpi vai siwàya,

padmàsana ekapratisthàya,

ardhanareswaryai namo namah.

Artinya: Ya Tuhan, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvarì, hamba memujaMu.

Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Desa, digunakan mantram sebagai berikut :

Om Isanah sarwa widyànàm

Iswarah sarwa bhùtànàm,

Brahmano dhipatir Brahmà

Sivo astu sadàsiwa

Artinya: Ya Tuhan, Hyang Tunggal Yang Maha Sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.

Untuk di pura Kahyangan Tiga, ketika memuja di Pura Puseh, mantramnya begini :

Om, Girimurti mahàwiryam,

Mahàdewa pratistha linggam,

sarwadewa pranamyanam

Sarwa jagat pratisthanam

Artinya: Ya Tuhan, selaku Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa-dewa tunduk padaMu.

Untuk memuja di Pura Dalem, masih dalam Kahyangan Tiga :

Om, Catur diwjà mahasakti

Catur asrame Bhattàri

Siwa jagatpati dewi

Durgà sarira dewi

Artinya: YaTuhan, saktiMu berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga. Ya,Catur Dewi, hamba menyembah ke bawah kakiMu, bebaskan hamba dari segala bencana.

Untuk bersembahyang di Pura Prajapati, mantramnya :

Om Brahmà Prajàpatih sresthah

swayambhur warado guruh

padmayonis catur waktro

Brahmà sakalam ucyate

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua makhluk, maha mulia, yang menjadikan diriNya sendiri, pemberi anugerah mahaguru, lahir dari bunga teratai, memiliki empat wajah dalam satu badan, maha sempurna, penuh rahasia, Hyang Brahma Maha Agung.

Untuk di Pura Pemerajan/Kamimitan (rong tiga), paibon, dadia atau

padharman, mantramnya :

Om Brahmà Wisnu Iswara dewam

Tripurusa suddhàtmakam

Tridewa trimurti lokam

sarwa wighna winasanam

Artinya: Ya Tuhan, dalam wujudMu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa MahaSuci, Tridewa adalah Trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana.

Untuk di Pura Segara atau di tepi pantai, mantramnya :

Om Nagendra krùra mùrtinam

Gajendra matsya waktranam

Baruna dewa masariram

sarwa jagat suddhàtmakam

Artinya: Ya Tuhan, wujudMu menakutkan sebagai raja para naga, raja gagah yang bermoncong ikan, Engkau adalah Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memujaMu.

Untuk di Pura Batur, Ulunsui, Ulundanu, mantramnya :

Om Sridhana dewikà ramyà

sarwa rupawati tathà

sarwa jñàna maniscaiwa

Sri Sridewi namo’stute

Artinya: Ya Tuhan, Engkau hamba puja sebagai Dewi Sri yang maha cantik,dewi dari kekayaan yang memiliki segala keindahan. la adalah benih yang maha mengetahui. Ya Tuhan Maha Agung Dewi Sri, hamba memujaMu.

Untuk bersembahyang pada hari Saraswati, atau tatkala memuja Hyang Saraswati. Mantramnya :

Om Saraswati namas tubhyam

warade kàma rùpini

siddharàmbham karisyami

siddhir bhawantu me sadà

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, pemberi

berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu sukses atas waranugraha-Mu.

Untuk bersembahyang di pemujaan para Rsi Agung seperti Danghyang Dwijendra, Danghyang Astapaka, Mpu Agnijaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan dan lainnya, gunakan mantram ini :

Om Dwijendra purvanam siwam

brahmanam purwatisthanam

sarwa dewa ma sariram

surya nisakaram dewam

Artinya: Ya, Tuhan dalam wujudMu sebagai Siwa, raja dari sekalian pandita,la adalah Brahma, berdiri tegak paling depan, la yang menyatu dalam semua dewata. la yang meliputi dan memenuhi matahari dan bulan, kami memuja Siwa para pandita agung.

Demikianlah beberapa mantram yang dipakai untuk bersembahyang pada tempat-tempat tertentu. Sekali lagi, mantram ini menggantikan “mantram umum” pada saat menyembah kepada Istadewata, yakni sembahyang urutan ketiga pada Panca Sembah.

Terakhir, ini sembahyang ke hadapan Hyang Ganapati (Ganesha), namun dalam kaitan upacara mecaru (rsigana), atau memuja di Sanggah Natah atau Tunggun Karang, tak ada kaitannya dengan Panca Sembah :

Om Ganapati rsi putram

bhuktyantu weda tarpanam

bhuktyantau jagat trilokam

suddha purna saririnam

Demikianlah mantram untuk Istadewata.

—————————————————————-

DOA SEHARI-HARI

Inilah doa untuk sehari-hari. Lazimnya tentulah dihafalkan. Namun kalau panjang, apalagi untuk di depan umum, misalnya, membuka rapat/pertemuan, mantram ini bisa dibaca dengan memegang buku. Mantram atau doa ini ejaannya sedapat mungkin mengikuti bahasa Sansekerta justru untuk mendekati pengucapan. Setiap hurup bergaris kecil di atasnya, dibaca lebih panjang. Misal: à dibaca aa dan ù dibaca uu. Namun, huruf v (asli) sudah diganti w untuk mendekati cara bacanya.

Doa menjelang tidur :

Om asato mà sat ganaya,

tamaso mà jayatir ganaya,

mrityor màmritam gamaya.

(Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar,dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.)

Doa bangun pagi :

Om Utedànim bhagawantah syàmota

prapitwa uta mandhye ahnam

utodità maghawanta sùryasya wayam

dewànàm sumantau syàma.

(Ya Tuhan Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalubernasib baik pada hari ini, menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semogapara Dewa melindungi diri hamba.)

Doa membersihkan/mencuci muka :

Om Cam camàni ya namah swàha.

Om waktra parisudahaya namah swàha.

(Ya Tuhan, hamba memujaMu, semoga muka hamba menjadi bersih.)

Doa menggosok gigi :

Om rahphat astràya namah.

Om Sri Dewi Bhatrimsa Yogini namah.

(Ya Tuhan, sujud hamba kepada Dewi Sri, Bhatari Yogini, semoga bersihlah gigi hamba.)

Doa berkumur :

Om Ang waktra parisudhamàm swaha.

(Ya Tuhan, semoga bersihlah mulut hamba.)

Doa membersihkan kaki :

Om Am kham khasolkhàya iswaràya namah swàha.

(Ya Tuhan, semoga bersihlah kaki hamba.)

Doa mandi :

Om Ganggà amrta sarira sudhamàm swàha.

Om Sarira parisudhamàm swàha.

(Ya Tuhan, Engkau adalah sumber kehidupan abadi nan suci, semoga badan hamba menjadi bersih dan suci.)

Bisa pula dengan doa atau mantram ini:

Om gangge ca yamune caiwa

godawari saraswati

narmade sindhù kaweri

jale smin sannidhim kuru

(Ya Tuhan, ijinkanlah hamba memanggil sungai suci Gangga, Yamuna,Godawari, Saraswati, Narmada, Sindhu dan Kaweri, semoga menganugerahkan kesucian kepada hamba.)

Doa pada waktu mengenakan pakaian :

Om tam Mahàdewàya namah swàha,

Om bhusanam sarirabhyo parisudhamam swàha.

(Tuhan dalam perwujudanMu sebagai Tat Purusha, Dewa Yang Maha agung, hamba sujud kepadaMu dalam menggunakan pakaian ini. Semoga pakaian hamba menjadi bersih dan suci.)

Selesai berpakaian hendaknya melakukan persembahyangan Trisandya.

Doa panganjali :

Diucapkan saat berjumpa dengan seseorang atau memulai suatu

pembicaraan dalam sebuah pertemuan. Tangan dicakupkan seperti

menyembah, diangkat sejajar dada.

Om Swastyastu

(Semoga selalu dalam keadaan selamat di bawah lindungan Tuhan.)

Doa menghadapi makanan :

Om hiranyagarbhah samawartatagre

bhùtasya jàtah patireka àsit

sadàdhara pritiwim dyam utemam

kasmai dewàya hawisa widhema

Om pùrnam adah purnamidam

pùrnàt purnam udacyate

pùrnasya purnam àdàya

pùrnamewawasisyate

(Ya Tuhan Yang Maha Pengasih. Engkau asal alam semesta dan

satu-satunya kekuatan awal. Engkau yang memelihara semua makhluk,seluruh bumi dan langit. Hamba memuja Engkau. Ya Tuhan Yang Maha Sempuma dan yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau Maha Kekal. Hamba mendapat makanan yang cukup berkat anugrahMu. Hamba manghaturkan terima kasih.)

Doa di atas baik untuk makan bersama, misalnya, pesta atau istirahat

makan dalam suatu pertemuan. Jika sendirian bisa mengucapkan doa pendek ini yang diambil dari kitab suci Yajurveda:

Om annapate annasya

no dehyanmiwasya susminah

pra-pra dàtàram tàris ùrjam

no dhehi dwipade catuspade

(Ya Tuhan, Engkau penguasa makanan, anugerahkanlah makanan ini, semoga memberi kekuatan dan menjauhkan dari penyakit. Bimbinglah hamba anugerahkan kekuatan kepada semua mahkluk.)

Doa mulai mencicipi makanan :

Om anugraha amrtàdi sañjiwani ya namah swàha.

(Ya Tuhan, semoga makanan ini menjadi penghidup hamba lahir dan bathin yang suci.)

Doa selesai makan :

Om Dhirgayur astu, awighnamastu, subham astu

Om sriyam bhawantu, sukham bhawantu, pùrnam bhawantu,

ksàma sampurnàya namah swàha.

Om, Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om.

(Ya Tuhan, semoga makanan yang telah masuk ke dalam tubuh hamba memberikan kekuatan dan keselamatan, panjang umur dan tidak mendapat sesuatu apapun. Ya Tuhan, semoga damai, damai di hati, damai di dunia,damai selama-lamanya.)

Doa sebelum memulai suatu pekerjaan :

Om awighnam astu namo sidhham.

Om sidhirastu tad astu swàha.

(Ya Tuhan, semoga atas perkenanMu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik).

Doa selesai bekerja/bersyukur :

Om Dewa suksma parama acintyàya namah swàha
Sarwa karya prasidhàntam.

Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om.

(Ya Tuhan dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maha karya,hanya atas anugrahMu-lah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik.Semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selamanya).

Doa mohon bimbingan Tuhan :

Om Asato mà sadyamaya

tamaso mà jyotir gamaya

mrtyor mà amrtam gamaya,

Om agne brahma grbhniswa

dharunama syanta riksam drdvamha

brahrnawanitwa ksatrawahi sajàta

wanyu dadhami bhratrwyasya wadhyàya.

(Tuhan Yang Maha Suci, bimbinglah hamba dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah hamba dari kegelapan pikiran menuju cahaya pengetahuan yang terang. Lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi. Tuhan Yang Maha Suci, terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada hamba (nafsu). Hamba menyadari bahwa Engkaulah yang berada dalam setiap insani (jiwatman), menolong orang terpelajar pemimpin negara

dan para pejabat. Hamba memuja Engkau semoga melimpahkan anugrah kekuatan kepada hamba.)

Doa mohon inspirasi :

Om prano Dewi Saraswati

wàjebhir wàjiniwati

dhinam awiñyawantu.

(Ya Tuhan dalam manifestasi Dewi Saraswati, Hyang Maha Agung dan Maha Kuasa, semoga Engkau memancarkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran, dan lindungilah hamba selama-lamanya.)

Doa mohon dianugrahi kecerdasan dan kesucian :

Om pàwakànah Saraswati

wàjebhir wajiniwati

yajñam wastu dhiyàwasuh.

(Ya Tuhan sebagai manifestasi Dewi Saraswati. Yang MahaSuci,

anugrahilah hamba kecerdasan. Dan terimalah persembahan hamba ini.)

Doa mulai belajar :

Om purwe jato brahmano brahmacari

dharmam wasànas tapasodatistat

tasmajjatam brahmanam brahma

lyestham dewasca sarwe amrttna sàkama

(Ya Tuhan, muridMu hadir di hadapanMu, Oh Brahman yang berselimutkan kesaktian dan berdiri sebagai pertama. Tuhan, anugrahkanlah pengetahuan dan pikiran yang terang. Brahman yang agung, setiap makhluk hanya dapat bersinar berkat cahayaMu yang senantiasa memancar.)

Doa mohon ampun dalam segala dosa :

Om dewakrtasyainaso awaya janam

asi manusyakrtasi nama awaya janam

asipitra kitasi namo awaya janam asyatma

krtasyaenaso awaya janam

asyena sa’ enase waya janam asi

yacchaham eno vidvamscakara

yacchavidvams tasya va ya janam asi

(Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orangtua hamba, terhadap teman hamba, Tuhan ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa,

terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Tuhan,semoga berkenan mengampuni semuanya itu.)

Doa memotong hewan :

Om pasu pasàya wimahe sirascadaya dhimahi tano jiwah pracodayat.

(Semoga atas perkenan dan berkahMu para pemotong hewan dalam

upacara kurban suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan, hambamemotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.)

Doa mengunjungi orang sakit :

Om sarwa wighna sarwa klesa sarwa lara roga winasàya namah

(Ya Tuhan semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau lenyapkan semuanya.)

Doa mendengar atau melayat orang meninggal dunia :

Om atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah

Om swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.

Om ksàma sampurnàya namah swàha.

(Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, semogalah arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganMu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Tuhan, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanMu.)

Doa untuk keselamatan penganten :

Om iha iwa stam mà wi yaustam

wiswam àyur wyasnutam

kridantau putrair naptrbhih

modamànau swe grhe

(Ya Tuhan, anugerahkanlah kepada pasangan penganten ini kebahagiaan,keduanya tiada terpisahkan dan panjang umur. Semoga penganten ini dianugerahkan putra dan cucu yang memberikan penghiburan, tinggal dirumah yang penuh kegembiraan.)

Doa memohon ketenangan rumah tangga :

Om wisowiso wo atithim

wajayantah purupriyam

agnim wo duryam wocah

stuse sùsasya manmabhih

(Ya Tuhan, Engkau adalah tamu yang datang pada setiap rumah. Engkauamat mencintai umatMu. Engkau adalah sahabat yang maha pemurah.Perkenankanlah hamba memujaMu dengan penuh kekuatan, dalam ucapanmaupun tenaga dan dalam lagu pujian.)

Doa untuk kelahiran bayi :

Om Brhatsumnah prasawità niwesano

jagatah sthaturubhayasya yo wasi

sa no dewah sawità sarma yaccha twasme

ksayaya triwarutham amhasah

(Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, yang memberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. la yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidakbergerak, semoga Ia memberi rahkmatNya kepada kami untuk ketentraman hidup dengan kemampuan untuk menghindari kekuatan yang jahat.)

Setelah bayi dimandikan, ayah bayi atau orang yang dituakan yang hadir di sana diminta membisikkan Mantram Gayatri (bait pertama Puja Trisandya)masing-masing tiga kali pada lobang telinga kanan dan kiri bayi itu.

Doa untuk memohon cinta kasih-Nya :

Om wicakrame prthiwim esa etàm

ksetràya wisnur manuse dasasyan

druwàso asya kirqya janàsa

uruksitim sujanimà cakàra

(Ya Tuhan, Engkau Hyang Wisnu yang membentang di bumi ini,

menjadikah tempat tinggal bagi manusia. Kaum yang hina aman sentosa di bawah lindungan-Nya. Yang mulia telah menjadikan bumi tempat yang lega bagi mereka.)

Doa untuk memohon panjang umur :

Om Taccaksur dewahitam sukram uccarat

pasyema saradah satam

jiwema saradah satam

(Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga seratus tahun hamba selalu melihat mata yang bersinar ciptaanNya, semoga hamba hidup seratus tahun lamanya.)

Doa pembukaan rapat/pertemuan :

Om sam gacchadwam sam wadadwam

sam wo manamsi jànatàm

dewa bhagam yatha purwe

samjànàna upasate.

Om samani wa akutih

samànà hrdayàni wah

samànam astu wo

mano yatha wah susahasati.

Om ano bhadrah krattawo yantu wiswatah

(Ya Tuhan, hamba berkumpul di tempat ini hendak bicara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikir sebagai mana halnya para dewa selalu bersatu.Ya Tuhan, tuntunlah kami agar sama dalam tujuan, sama dalam hati,bersatu dalam pikiran hingga dapat hidup bersama dalam sejahtera dan bahagia. Ya Tuhan, semoga pikiran yang baik datang dan segala penjuru.)

Doa penutup rapat/pertemuan :

Om anugraha manoharam,

devadatta nugrahaka,

arcanam sarwà pùjanam,

namah sarwa nugrahaka.

Om ksama swamàm jagadnàtha,

sarwa pàpà hitankarah,

sarwa karya sidham dehi,

pranamya sùryeswaram.

Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om.

(Ya Tuhan limpahkanlah anugrahMu yang menggembirakan kepada

hamba. Tuhan yang maha pemurah, semoga Tuhan melimpahkan segala anugrah kepada hamba. Ya Tuhan, pelindung alam semesta, pencipta semua makhluk, ampunilah dosa hamba dan anugrahilah hamba dengan keberhasilan atas semua karya. Tuhan yang memancarkan sinar suci,ibaratnya sang surya memancarkan sinarnya, hamba sujud kepadaMu. Ya Tuhan, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya.)

Untuk menutup pertemuan, bisa pula dipakai doa di bawah ini yang

diambilkan dari kitab Yajurveda. Mantram ini disebut Santi Mantram.

Bunyinya:

Om dyauh sàntir antariksam sàntih

prthiwi sàntir àpah sàntir

asadhayah santih wanaspatayah santir

wiswe dewah sàntir brahma sàntih

sarvam sàntih santir ewa sàntih

sà mà sàntir edhi

(Ya Tuhan Yang Mahakuasa, anugerahkanlah kedamaian di langit, damai dibumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan,damai bagi para dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta.Semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami)

Doa untuk pedagang :

Om à wiswàni amrta saubhagàni

(Ya Tuhan, semoga Engkau menganugerahkan segala keberuntungan yang memberikan kebahagiaan kepada hamba.)

Doa untuk kebajikan, juga dipakai sebelum meditasi :

Om wiswàni dewa sawitar

duri tàni parà suwa

yad bhadram tanna à suwa

(Ya Tuhan, Sawitar, usirlah jauh-jauh segala kekuatan jahat. Berikanlah hamba yang terbaik.)

Doa mohon perlindungan, juga baik diucapkan ketika sakit :

Om Trayambhakam yajàmahe

sugandhim pusti wardhanam

unwarukam iwa bandhanàt

mrtyor muksiya màmrtàt

(Ya Tuhan, hamba memuja Hyang Trayambhaka/Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak makanan. Semoga la melepaskan hamba seperti buah mentimun dari batangnya, melepaskan dari kematian dan bukan dari kekekalan.)

Doa untuk pelantikan pejabat negara :

(Yang dilantik biasanya menirukan)

Om A Brahman bràhmano brahmawarcasi jàyatàmà

ràste raàjanah sura isawyo tiwyàdhi mahàratho jàyàtàm

dogdhri dhenuryodànad wànàsuh saptih purandhiryosàjisnu

rathesthah sabheyo yuwàsyajayamànasya wiro jàyàtam

nikàame-nikàme nah parjanyo warsatu phalawatyo na

osadhayah pacyantam yogaksemo nah kalpatàam

(Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, semogalah di negara ini lahir orang-orang yang memiliki pengetahuan spiritual. Semoga pula pemimpin-pemimpin yang perkasa pandai menggunakan kebijaksanaan seperti menggunakan senjata, pahlawan yang tangguh, sapi yang banyak memberikan susu,lembu pembawa barang dan kuda yang cepat. Demikian pula lahir wanita yang sempurna. Pemuda yang baik dan berguna bagi masyarakat, sedia berkorban. Semoga hujan turun memberi kemakmuran. Semoga pepohonan berbuah lebat. Semoga usaha kami berhasil.)

Doa mengheningkan cipta :

Om-mata bhumih putro aham prthivydh

(Ya Tuhan, semoga kami mencintai tanah air ini sebagai ibu dan hamba adalah putra-putranya yang siap sedia membela seperti para pahlawan kami.)

Doa paramasanti :

Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

(Semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya.)

MANTRA CIWALATRI

Digunakan pada saat memimpin pelaksanaan Siwaratri

1. Mantra Upa Saksi ( Ciwa Raditya )

Om   Aditya   sya   Paranjyotir,  Rakte   taja   namostute,

Sweta   pangkaja   madyaste,  Bhaskara   ya   namo   namah.

Om  Hrang  Hring  Sah  Parama  Siwa  Ditya  ya  namo  namah swaha.

2. Mantra  Memuja Brahma

Om   Isanosarwa   widyana,

Iswara   sarwa   bhutanam,

Brahmadipati   Brahman.

Siwastu   Sada   Siwa   ya,

Om Am  Brahma  namah.

3. Mantra Memuja Wisnu

Om   Giri  Pati  Maha  Wiryam,  Mahadewa  pratista  lingam,

Sarwa  Dewa  pranamyanam,  Sarwa  Jagat  pratistanam.

4. Mantra MemujaIswara

Om   Catur   Dewi   Maha   Dewi,   Catur    asrama  Bhatari,

Siwa   Jagatpati   Dewi,   Dhurga   Masarira   Dewi,

Om Anugraha   amrtta   sarwa  lara   winasanam  ya  nama  swaha.

5. Mantra Memuja Ghana

Om   Ghana   parama   tanggoyam,

Ghana   tatwa  para   yanamah,

Ghana dhiparama   pnoti.

Sukha  Ghana   ame   stute.

6. Mantra Memuja  Giripati

Om   Am  Am  iripati  wandi,  Lokanatam  jagatpati,

Danesan  Arana  karanam,  Sarwa  Gunam  mohodyatam,

Om   Maha  Rudram  Maha  Sudham, Sarwa  roga    winasanam.

7. Mantra Memuja Hyang Kumara

Om   Namah  Kumara  ya  sadhana  ya, Siki  dwaja  ya pratimaya  loka

Sad   kartika  nanda  karya  ya   nityam,  namastute  tasme  dwaja

Puditam.

Sumber : https://wahana08.wordpress.com/doa-dan-mantram/

Sabtu, 03 Oktober 2015

Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija

Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija

     Setiap kali kita melakukan persembahyangan, pasti kita akan menerima tirtha sebagai anugerah Hyang Widhi. Sudah sangat lajim kedua tangan tengadah, kemudian kedua tangan ditumpuk telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, selanjutnya para pemangku atau pengayah akan memercikkan tirtha ke ubun-ubun tiga kali, diminum tiga kali kemudian diraupkan tiga kali. Tujuan pemercikan tirtha ini adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan.

     Doa pada saat memercikkan tirtha para pemangku/sulinggih/pinandita mengucapkan mantram:

Om Pratamacuddha, dwitiyacuddha, tritiyacuddha cuddhamam wariastu.

Artinya: Pertama suci, kedua suci, ketiga suci, suci suci, Semoga suci dengan tirtha ini.

Dan bagi kita yang menerima tirtha dari para pemangku/sulinggih/pinandita juga perlu mengucapkan mantram sesuai dengan peristiwa. Bisa dilakukan dalam hati atau dengan suara pelan:

Om Ang Brahma amrta ya namah, Om Ung Wisnu ya namah, Om Mang Iswara ya namah.

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Brahma, Ya Tuhan dalam wujud Wisnu, Ya Tuhan dalam wujud Iswara, Anugerahkanlah hamba air suci.

    Doa Minum Tirtha: (dilakukan sesaat akan minum)

Om Om sarira ya namah, Om Om sada Siwa ya namah, Om Om Paramasiwa ya namah.

Artinya: Ya Tuhan sebagai Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, Anugerahkanlah badan dan rohani ini air suci.

    Doa Meraup(mencuci muka) Tirtha:

Om Om Sarira purna ya namah, Ang Ung Mang Gangga amrta ya namah, Sarira suddha parama teja ya namah, Om Ang sama sampurna ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sempurnakanlah badan ini, Ya Tuhan sebagai perwujudan Gangga amertha, anugerahkanlah diri kami kesucian, sinar yang maha suci, yang maha sempurna.

   Doa Metirtha di Badan:

Om Atma raga sarira pari suddha ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sebagai badan atma yang suci sucikanlah badan ini.

   Doa Masekar: Masumpang/mecunduk di Ciwadara(ubun-ubun):

Om Siwa Raditya ya namah swaha. Arti simbolisnya adalah agar kita tetap percaya terhadap Hyang Widhi Wasa.

     Doa Mesekar: Mesumpang pada kedua telinga:

Om Dewa Sri Dewi ya namah swaha.
Bunga di bagi menjadi dua bagian kedua tangan menyilang, tangan kanan memasang bunga pada telinga kiri, tangan kiri memasang bunga di telinga kanan.

    Doa Mebija: Dilekatkan pada lelata(dahi tengah)

Om Criyam bhawantu.
Artinya: Semoga kebahagiaan meliputi hamba.

Dilekatkan pada pangkal tenggorokan: 

Om Sukham bhawantu,
Artinya: Semoga kesenangan selalu datang pada hamba.

   Ditelan(tanpa dikunyah):

Om Purnam Bhawantu, Om Ksama sampurna ya namah swaha

Artinya: Semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna.

Rabu, 30 September 2015

Hindu Agama tertua

Agama tertua di Indonesia adalah agama Hindu dengan bukti adanya Kerajaan Kutai di Kalimantan dan Kerajaan Majapahit di Jawa.
Disusul dengan agama Budha dengan bukti adanya Candi Borobudur di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra...
Lantas bagaimana dengan 'mereka'?
'mereka' hanya lah pendatang di Nusantara ini, setelah masuk lalu dengan gencarnya berdakwah sehingga 'mereka' lah yang terbanyak. Dengan jumlah terbanyak, 'mereka' merasa hebat dan merasa mereka lah yang berhak memimpin Nusantara ini...
Intinya, Nusantara ini adalah awal nya milik Hindu dan Budha, bukan milik 'mereka'...jadi, jangan SONGONG lah mentang-mentang punya umat terbanyak kalau toh tinggal di tanah agama lain.....
Bagaimana dengan Kristen??
Meskipun juga pendatang, Kristen diam aja dan ga mau ikut campur...bahkan kadang tertawa melihat ke SONGONG an 'mereka' yang merasa paling benar, padahal........???

Artikel ajaran Agama Hindu

Mantra Sembahyang Agama Hindu
Di dalam segala jenis kurban suci, japa yang artinya mengulang-ulang nama suci Tuhan merupakan kurban suci tertinggi (Bhagavad-gita 10.25), .. di antara getaran-getaran suara Aku adalah “Om” yang bersifat rohani. Bhagavad-gita 10.35 : ”.. Diantara semua mantra, Akulah Gayatri ..”

“Mungkin engkau tidak dapat melakukan latihan rohani yang sulit seperti meditasi, tapa, yoga, dan sebagainya. Cukuplah jika engkau mengidungkan nama Tuhan. Jangan melakukan latihan yang tidak engkau mengerti. Ambillah jalan yang paling mudah yaitu namasmarana” yaitu pengulangan dan mengingat Nama-Nama Tuhan seperti : Japa, Sankirtana.  Sankirtana atau Bhajan adalah menyanyikan lagu-lagu kebhaktian.

Sedangkan Japa adalah pengulangan Nama Tuhan yang dipilih secara pribadi yang umumnya dilakukan dengan cara duduk seperti meditasi, misalnya pengucapan Nama Tuhan atau mantra : “Om Nama Sivaya”, “Om Sai Ram”, “Hari Om Tat Sat”, Mantra Hare Krishna, Mantra Gayatri, dll.

Mantra Gayatri (di Bali untuk versi yang lebih panjang adalah sembahyang Puja Tri Sandhya) yang dipanjatkan 3 kali sehari, pagi / subuh, siang dan sore menjelang malam.

Mantra Gayatri bisa diucapkan bersuara atau diucapkan di dalam hati, mata terpejam atau terbuka, sambil menghayati makna / arti mantra tersebut yang ditujukan kepada cahaya cemerlang Brahman, mantra diulang-ulang beberapa kali (japa), sedikitnya beberapa kali, misalnya 9 kali, idealnya 108 kali, lebih baik dilakukan pada waktu dan tempat yang sama / teratur, misalnya kalau setiap pagi selalu dilakukan tepat jam 5 pagi, sore harinya tepat jam 6 petang.

Posisi japa mantra bisa duduk bersila / bersimpuh, duduk di kursi atau berdiri, bisa menggunakan atau tanpa menggunakan Japa Mala (Tasbih) menghadap timur atau utara. Bagus menghadap ke timur karena matahari terbit dari timur serta menghadap searah dengan putaran bumi yang juga ke timur.

Namun kita tidak boleh memperlakukan Mantra Gayatri secara sembarangan, hati kita harus selalu murni (jauh dari maksud jahat, benci, dsb) dan di tempat yang suci (tidak selalu di tempat ibadah) dan melafalkan mantra dengan benar serta pemahaman arti mantra.

Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan, Gayatri menyelamatkan orang yang mengucapkannya. Mantra Gayatri ditujukan kepada Tuhan yang imanen transenden (Tuhan yang berada dalam kesadaran segala makhluk dan segala sesuatu, tetapi juga melampaui sesuatu).

Mengidungkan Mantra Gayatri membentuk, mengembangkan dan mempertajam kecerdasan dan kemampuan akal budi manusia.

Orang yang mengucapkan Mantra Gayatri secara teratur dengan penuh keyakinan akan memperoleh faedah seperti berikut:
Mantra Gayatri membebaskannya dari berbagai penyakit, menangkis atau mencegah segala kesengsaraan, penghapus dosa, keberuntungan, dll.

Para ilmuwan barat telah menemukan bahwa bila Mantra Gayatri diucapkan dengan aksen yang benar, lingkungan sekitarnya tampak diterangi oleh vibrasi yang ditimbulkan oleh mantra tersebut.

Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Diyoyonah Pracodayat

Ya Tuhan  yang menerangi tiga dunia, *
Engkaulah Tuhan yang kami sembah, asal semua ciptaan,
Kami bermeditasi ke arah Cahaya CemerlangMu,
Terangilah budhi kami. **

* Makrokosmos: tiga dunia : alam kasat mata, alam halus dan alam kausal. Brahman, cahaya rohani, ada di luar dan juga di dalam 3 dunia sebagai penyebab awal terciptanya 3 dunia tersebut. Mikrokosmos : phisik, mental dan jiwa.
** Karena selain Atman yang memang adalah diri sejati, maka dari badan kita, budhi lah yang paling halus atau paling tinggi.

Mantra ini juga bisa digunakan untuk mantra sebelum makan, sebelum tidur dan bangun tidur setidaknya 1 kali mantra.

Japa akhiri dengan : Om Shanti Shanti Shanti Om
Kita harus mengucapkan Shanti 3 kali, santih untuk memberikan kedamaian batin pada tiga hal dalam diri kita: badan, pikiran/budi/intelek, dan jiwa.

Sadhana (sembahyang, latihan rohani) merupakan proses yang kita gunakan untuk memisahkan kebenaran dari ketidak benaran sehingga mendapatkan kebenaran. Sembahyang, mendekat Tuhan, itu pada dasarnya untuk melupakan dan mengikis ikatan atau keinginan duniawi dan sifat buruk lainnya sehingga kemudian kita benar-benar “mendapatkan Tuhan” (moksha: pencerahan rohani, kebahagiaan abadi) dan anugerah lainnya yang mungkin kita perlukan.

“Seluruh mahluk dan alam semesta adalah manifestasi Brahman Yang Maha Esa, dengan demikian kita melihat kesatuan dalam segala sesuatu. Kita harus yakin sepenuhnya bahwa prinsip Ketuhanan, Tuhan yang cemerlang, ada dalam setiap manusia dan setiap benda. Kalau kita menyadari keberadaan Tuhan dalam setiap makhluk (sebagai Atman, percikan dari Brahman), dan menyadari kesatuan (keesaan) dalam semua yang tampak sebagai kebhinekaan ini, maka engkau tidak akan dapat lagi membenci orang lain.”

Jadi Sadhana itu seharusnya menyatu dalam kehidupan sehari-hari, karena kebebasan (Moksha) tidak berdasarkan pahala, tetapi kualitas / karakter yang baik yang diperoleh dari latihan rohani.

Dengan menghayati diri kita yang sejati dan kekal sebagai Atman di dalam hati, tinggalkan pikiran yang keliru bahwa diri kita adalah raga, merupakan salah satu sikap yang tepat untuk bersembahyang atau memuja Tuhan.
———–

Bhagavad-gita 10.20
O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk.

Bhagavad-gita 10.11
Untuk memperlihatkan karunia istimewa kepada mereka, Aku yang bersemayam di dalam hatinya, membinasakan kegelapan yang dilahirkan dari kebodohan dengan lampu pengetahuan yang cemerlang.

Bhagavad-gita 15.7
Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diri-Ku. Oleh karena kehidupan yang terikat, mereka berjuang dengan keras sekali melawan enam indria, termasuk pikiran.

Bhagavad-gita 9.22
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

“Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan
yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan,
akan Kutanggung bebannya dan Kuberi apa yang mereka butuhkan.”

Selasa, 29 September 2015

Mengapa kita Beragama Hindu?

Kita memeluk Agama Hindu karena:
1. Dilahirkan oleh orang tuan beragama hindu.
2. Ditakdirkan oleh Hyang Widhi.
3. Kembali ke agama leluhur.

Sekarang banyak saudara-saudara kita dari suku jawa akan kembali ke agama leluhurnya yaitu agama hindu.  Sesuai mitos, prabu raden wijoyo terakhir bersama leluhurnya majapahit meramalkan, bahwa kerajaan majapahit saat itu memang harus runtuh.  Tetapi, "setelah 500 thn kerajaan majapahit runtuh, para leluhur majapahit menagih,  agar keturunannya kembali ke agama Hindu"
Oleh karena itu,  masyarakat Bali dan jawa secara tidak disadari telah menyongsong masa baru ini,  nantinya pusat hindu tidak lagi berada di bali melainkan akan berpindah ke pulau jawa.  Sebagai bukti nyata,  telah berdiri pura mandara giri semeru agung di kaki gunung semeru jawa timur.

Sumber "WHDI,  KMHDI dan Pasraman propinsi lampung"

Senin, 21 September 2015

I Love Hindu

GAYATRI MANTRAM
FUNGSI DAN BERKAHNYA BAGI YANG MENGUCAPKAN

OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDDHAM

Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hafal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hafal dan mengenal mantra Gayatri mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra. Untuk itu saya mencoba menyampaikan sedikit pengalaman mempergunakan mantra Gayatri dalam kehidupan sehari-hari dan dampak sampingan bagi kita untuk meningkatkan tingkat spiritual masing-masing.

Sebelumnya, perlu diketahui yang lebih penting dari pada itu adalah pemahaman tentang keberadaan diri kita sendiri yaitu bahwa kita lahir ke dunia bukanlah seorang diri. Secara kodrat sudah ditentukan bahwa manusia itu lahir ke dunia bersama dengan delapan saudara kembarnya sehingga menjadi sembilan dengan dirinya. Empat berada di luar diri manusia dan lima berada di dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan “sedulur papat kelima pancer”. Sedulur papat kelima pancer ini adalah merupakan kunci utama dari berhasil atau tidaknya seseorang mengarungi kehidupan di dunia ini dan di dunia kelanggengan. Ketika kita mau makan, berangkat kerja, sembahyang dan sebagainya kita harus mengajak mereka bersama-sama, agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

1. BUNYI MANTRA GAYATRI

OM BHUR BUWAH SWAH
(Ya Tuhan, Engkau penguasa alam nyata, alam gaib, alam maha gaib)
TAT SAWITUR WARENYAM
(Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah)
BHARGO DEWASYA DHIMAHI
(Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi)
DHIYO YO NAH PRACODAYAT
(Terangilah jiwa hamba agar hamba berada dijalan yang lurus menuju Engkau)

2. MANTRA GAYATRI UNTUK MENGAGUNGKAN DAN MENYEMBAH
TUHAN

Dengan mengucapkan mantra Gayatri secara berulang-ulang minimal 108 kali sesering mungkin untuk mengagungkan, menyembah Dia, maka kita akan memperolah ketenangan jiwa dan pikiran, caranya :
Ucapkan pertama Om Awignham Astu Namo Siddham sebelum kita memulai suatu pekerjaan. Selanjutnya ajak saudara kita untuk sembahyang :
Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dine, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama menyembah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca.
Ucapkan OM TAT SAT EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN,
selanjutnya japa gayatri dengan khusuk.

3. MANTRA GAYATRI UNTUK MEMBUKA TUJUH CAKRA UTAMA YANG ADA
DALAM DIRI MANUSIA, DIBANTU PRANAYAMA DAN DAGDI KARANA

Dengan melakukan pranayama adi pada waktu pagi atau malam hari dengan cara :
Duduk bersila, pakaian agak longgar, alas duduk yang empuk lakukan:

a. Tarik nafas yang dalam dengan cepat langsung ditaruh diperut bagian bawah/puser,
tahan sebentar sambil baca mantra dalam hati
OM Ang Atmaya Brahma murtyayai namah.

b. Nafas dinaikkan ke dada ditahan sebentar sambil baca mantra dalam hati:
OM Ung Antaratmaya Wisnu Murtyayai namah

c. Nafas dinaikkan ke kepala dan ditahan semampunya dan jangan memaksakan, sambil
ucapkan mantra dalam hati:
OM Mang Paramaatmaya Iswara murtyayai namah

d. Nafas dibuang perlahan dengan mengucapkan mantra dalam hati:
Om Ung Rah Pat astraya namah sarwa winasaya swaha.

e. Lakukan dengan sabar dan ulangi beberapa kali semampunya. Kalau capek bisa istirahat
sebentar.

f. Setelah melakukan pranayama adi, lakukan dagdi karana yaitu posisi tetap duduk bersila lalu
ucapkan mantra :
OM Sariram kundam ityuktan
(Ya Tuhan, semoga engkau jadikan tubuh ini bagaikan tungku api)
Triyantah karanam indhanam
(yang sanggup membakar ketiga dunia dalam tubuh ini)
Sapta Ongkara mayo bahnir
(menjadikan tujuh Ongkara/cakra yang ada dalam tubuh hamba menjadi terbuka)
Bojananta udindhitah
(sehingga dapat menyimpan kekuatan prana)
OM Ang astra Kala Agni Rudra ya namah swaha
(Ya Tuhan, atas restumu semoga Api Rudra yang rahasia hadir dalam tubuh hamba)

Bayangkan diri kita seakan-akan berada di tengah-tengah gungungan api.

Setelah beberapa saat, ucapkan Amerta Mantra ;
OM Hram hrim sah Paramaciwa Raditya ya nama swaha
OM Ung Rah Phat astra ya namah.
Bayangkan ada tirta amerta yang mengguyur kepala kita terus mengalir keseluruh tubuh melalui tulang belakang.

g. Teruskan japa Gayatri Mantram 108 kali. Lebih banyak akan lebih bagus hasilnya.

4. MANTRA GAYATRI UNTUK MENDOAKAN PARA BHETARE DAN LELUHUR
KITA

Betare yang duduk di sebuah pure, dulunya adalah manusia sama seperti kita. Bedanya, beliau pada waktu hidupnya sudah mempelajari, mengamalkan weda sehingga mencapai tingkat kesucian tertentu menurut kaca mata Tuhan dan diijinkan untuk menjadi Bhetare (pelindung).
Contohnya : Mpu Gnijaya.
Terhadap beliau kita tidak perlu menyembah, akan tetapi mendoakan beliau, karena beliau belum mencapai tahapan puncak yaitu Aham Brahman Asmi (artinya masih bertugas/beryadnya sebagai pelindung).
Caranya :
Ya Tuhan yang Maha Sempurna, semoga Engkau menganugrahkan kesempurnaan yang sejati ya sejatinya sampurna kepada Bhetare yang duduk di pure ini (atau sebut nama purenya). Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 kepada beliau. Lakukan japa.
Bagi yang frekwensinya sudah nyambung, Bhetare akan hadir melalui penglihatan mata bathin.
Kepada para leluhur, orang tua (almarhum) dapat dilakukan sebagai berikut :

Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, semoga engkau mengampuni segala dosa dari para leluhur hamba, atau almarhum kedua orang tua hamba (sebut namanya), berikanlah tempat yang layak kepada mereka. Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 untuk beliau.
Leluhur yang kita doakan biasanya akan hadir dalam mimpi.

5. GAYATRI MANTRAM DIUCAPKAN PADA SAAT KITA MAU BERANGKAT
KERJA, MELIWATI TEMPAT-TEMPAT YANG ANGKER DAN MENAKUTKAN

Ketika kita mau berangkat kerja atau berniat pergi kesuatu tempat, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ada tata krama yang perlu dilakukan demi keselamatan kita di jalan, apalagi ketika pada malam hari kita melewati tempat yang angker. Caranya :
Sebelum keluar dari pintu utama rumah, kita berdiri dibawah pintu, tarik nafas dalam, jari telunjuk melintang di depan kedua lobang hidung, hembuskan nafas lalu rasakan, lobang mana yang terasa lebih kencang keluarnya udara. Kalau lobang sebelah kanan yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kanan. Kalau lobang sebelah kiri yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kiri. Kalau kedua-duanya sama, maka kaki yang duluan melangkah terserah kita.
Sebelum kita melangkahkan kaki, maka sebaiknya kita harus mengajak saudara kita :
Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama berangkat ke ….
Jagalah aku dalam perjalanan.
Ucapkan Gayatri Mantram 7 kali. Baru melangkahkan kaki sesuai dengan hasil yang diperolah tadi. Apabila kita merasa ketakutan ketika melewati suatu tempat, kita tinggal mengucapkan Gayatri Mantram saja.

Didalam kita mengucapkan Gayatri Mantram, jumlah bait yang diucapkan tergantung untuk apa kita bergayatri mantram,
a. Bila kita memohon pertolongan dari Tuhan, kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 7 kali (pitulungan), 70 kali atau 700 kali dan lebih bagus lagi kalau 7000 kali.
b. Bila kita memohon kesempurnaan kepada Tuhan, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 9 kali (sempurna), 99 kali atau 999 kali dan lebih bagus lagi 9999 kali.
c. Bila kita memohon jalan yang sukses atas suatu kegiatan/upacara, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 11 kali (pintu gerbang), 111 kali atau 1111 kali.

6. GAYATRI MANTRAM UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG SEDANG SAKIT.

Kepada orang yang sedang dicoba oleh Tuhan dengan memberikan penyakit, maka dengan mantra Gayatri kita bias membantu untuk memohon kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Caranya :
Ya Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, semoga Engkau anugrahkan kesembuhan kepada ……(sebutkan namanya) lalu panggil saudaranya yang sakit; sedulur papat kelima pancer si jabang bayi …….(sebut namanya yang sakit), bantulah saudaramu yang sedng sakit supaya sehat.

Barulah berjapa Gayatri sebanyak 77 kali atau 777 kali. Bila perlu, lebih bagus lagi dibantu dengan sarana air putih. Setelah selesai air putih diminumkan dan dibalurkan kebadan yang sakit. Dalam hal ini, pemohon harus dalam konsentrai penuh. Bagi yang sudah bisa menerima sinyal/petunjuk dari gaib, maka gambar yang terlihat oleh mata bhatin; bias orang yang sakit tersenyum sehat, bias sinar terang, ini artinya orang yang sedang sakit akan dianugrahkan kesembuhan. Kalau gambar yang diterima dari gaib berupa kuburan atau kobaran api yang membakar sesuatu, ini petunjuk bahwa memang sakit ini adalah jalannya untuk meninggal.
Namun tanda apapun yang diterima itu hanya untuk sendiri, jangan dulu disampaikan kepada orang lain, tidak boleh mendahului kehendak Tuhan.

7. GAYATRI MANTRAM KITA UCAPKAN PADA SAAT KITA AKAN TIDUR

Ketika kita berniat untuk tidur, maka sebelumnya kita sebut sadulur kita:
sadulurku papat kelime pancer kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina tunggal jalan, aku mau tidur, tolong jaga aku dari orang –orang yang jahat dan sirik. Om tat sat ekam eva adwitym Brahman,

selanjutnya baca Gayatri mantram 7 kali.

Gayatri Mantram adalah sebuah mantra yang khadamnya adalah kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sangat tergantung dari tingkat kesucian pikiran dan hati dari yang mengucapkannya. Walaupun sepuluh orang sama-sama mengucapkan mantra Gayatri, tapi hasil tidak akan sama tergantung kesucian hati dan pikiran masing-masing.
Namun demikian, dengan lebih sering berjapa Gayatri Mantram kita akan sedikit demi sedikit dapat mencapai kesucian itu. Teruslah berjapa dan jangan pernah bosan. Lambat tapi pasti, ketenangan jiwa akan mulai terasa. Sabar, sabar, dan sabar, karena sabar itulah kunci dari kesuksesan kita.

OM SANTI SANTI SANTI OM

Jumat, 28 Agustus 2015

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali


Hasil gambar untuk hari raya nyepi


Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Bali
Oleh Public Blog

   Hari raya suci Umat Hindu yang umum dirayakan adalah : Nyepi, Galungan, piodalan, Sarasvati puja, Sivaratri puja dan sebagainya. Diantara pelaksanaan hari raya suci tersebut yang paling menonjol adalah hari raya Nyepi jatuhnya dalam periode waktu satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat ini matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakni waktu yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi dilengkapi dengan upacara Tawur (Bhuta Yajna) yaitu hari Tilem Chaitra dengan ketentuannya dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan apabila melaksanakan tawur hendaknya jangan mencari hari lain selain Tilem bulan Chaitra.

    Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai dengan acara Melasti, kemudian sehari sebelum hari raya Nyepi dilangsungkan upacara Bhuta Yajna, dan sebagai hari penutup dilaksanakan Ngembak Agni sehari setelah hari raya Nyepi. Keseluruhan kegiatan ini dipusatkan di Pura Desa Puseh, dihadapan Tuhan Purusa atau Sri Visnu, dan Deva Brahma. Sebagai penyembah dalam kesadaran Krsna atas karunia sang guru kerohanian kita diberi penglihatan rohani dapat melihat pemandangan secara terang betapa agungnya kemulyaan Sri Visnu dengan nama lain Yajnapati, Tuhan penikmat dan tujuan akhir dari segala kurban suci bagi seluruh penghuni alam jagat raya.

Upacara Melasti

    Sebelum pelaksanaan Melasti, semua para deva (arca atau pratima) dari setiap pura dalam wilayah lingkungan kota atau desa diiring berkumpul di Pura Desa Puseh. Para deva satu-persatu berdatangan setelah lebih terdahulu bersujud menghadap Meru, Sri Visnu, kemudian distanakan berdampingan satu sama lain dalam satu bangunan memanjang yang disebut sebagai Balai Panjang atau Balai Agung. Keesokan harinya upacara Melasti dilangsungkan, Tuhan Sri Visnu dan para deva diiringi bersama-sama menuju laut atau ke mata air terdekat yang dianggap suci tergantung daerah masing-masing. Upacara Melasti tidak lain adalah upacara penyucian, prayascita. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan : “Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dari keterikatan dunia material,” sedangkan lontar Sundarigama menyatakan; “Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.” Air suci ini berasal dari muara sungai-sungai suci di India khususnya sungai Gangga.

    Dalam Srimad Bhagavatam skanda sembilan disebutkan Raja Bhagiratha melakukan pertapaan agar air Gangga turun ke bumi, kemudian memohon kepada ibu Gangga membebaskan leluhurnya. Ibu Gangga tersembur dari kaki padma Tuhan Sri Visnu, Beliau dapat membebaskan seseorang dari ikatan material. Nampak nyata bahwa siapapun yang secara teratur menyembah Ibu Gangga semata-mata dengan mandi di airnya dapat memelihara kesehatan dengan sangat baik dan perlahan-lahan menjadi penyembah Tuhan. Mandi air Gangga dipermaklumkan dalam semua susastra Veda, dan orang yang mengambil manfaat tentu sepenuhnya dibebaskan dari reaksi dosa.

   Seusai acara Melasti, pada suatu daerah desa tertentu sebelum Sri Visnu dan para deva menuju Pura Desa Puseh terlebih dahulu diiring (dituntun) ke pasar mengikuti acara mepasaran di hadapan Pura Melanting dimana berstana Devi Sri, Devi Laksmi, Devi Keberuntungan. Sekembalinya para deva dari acara mepasaran setelah terlebih dahulu menghadap Sri Visnu, akhirnya para deva berstana di Balai Agung. Sementara Sri Visnu berstana di Meru dan Deva Brahma berstana pada bangunan Gedong di sebelah Meru. Acara berstana ini disebut Nyejer dan berlangsung sampai selesai acara Bhuta Yajna, sehari menjelang hari raya Nyepi, pada sore hari.

    Selama beberapa hari seluruh warga dan adat setempat melakukan puja, mempersembahkan sesajen atau persembahan yang disebut prani. Pada saat ini pula umat memohon tirta Amrta air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya, semua makhluk, dan alam semesta. Melalui acara Nyejer terkandung pula permohonan umat kepada Sri Visnu dan para deva untuk menyaksikan upacara Bhuta Yajna yang dilakukan oleh umatnya.

Upacara Bhuta Yajna 

    Sehari sebelum hari raya Nyepi adalah hari terakhir dari serangkaian upacara di Pura Desa Puseh tersebut, tepatnya pada hari Tilem Chaitra (Kesanga) dilangsungkan upacara Bhuta Yajna yang dikenal dengan Pengerupukan yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sri Visnu, manusia dengan sesama makhluk ciptaan-Nya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup.

   Dalam Bhagawadgita 4.8 Sri Krsna bersabda : 
Paritranaya sadhunam vinasaya ca duksrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge. 

    Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma. Aku sendiri muncul pada setiap zaman. 

    Tentang Bhuta Yajna ini di dalam Agastya Parwa dinyatakan Bhuta Yajna adalah Tawur untuk kesejahteraan makhluk. Dalam hubungannya dengan hari raya Nyepi, wujud upacara Bhuta Yajna lebih dikenal Tawur Kesanga yang dilihat dari tingkat penyelenggaraannya dari tingkat yang paling besar : seratus tahun sekali disebut Ekadasa Rudra, setiap sepuluh tahun disebut Panca Wali Krama dan setiap tahun sekali disebut Tawur Kesanga.

Upacara Hari Raya Nyepi

   Menurut keputusan Seminar Kesatuan Tapsir terhadap Aspek-spek Agama Hindu tentang Hari Raya Nyepi (1988) bahwa Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, pada hakekatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

    Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut : (1). Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, (2). Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, (3). Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri, (4). Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” yaitu fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24) jam.

Upacara Ngembak Agni

    Hari Ngembak Agni jatuh setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma shanti baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

    Dharma shanti dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam kelurga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru terbinanya kerukunan dan perdamaian. Sedangkan dharma santi di lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan dharma wecana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung kekawin pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan serta memberikan “punia” atau berdarma sosial kepada yang patut menerimanya.

vidio pelaksanaan hari raya Nyepi :
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=y1Wv2q0W768#t=0

Sumber :
http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=23

Pemaknaan Hari Raya Saraswati

Pemaknaan Hari Raya Saraswati
Oleh : Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda, Giriya Kutuh, Kelurahan Kuta, Badung.
OM, Swastyastu.
Saraswati adalah nama dari seorang Dewi, yang merupakan Sakti dari Bhatara Brahma. Dewi Saraswati diyakini oleh umat Hindu merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Dewi-Nya ilmu pengetahuan. Di Bali, Beliau juga disebut dengan nama Sang Hyang Aji Saraswati sebagai Hyang-Hyanging Pangaweruh.
Dewi Saraswati diwujudkan sebagai sesosok Dewi yang amat cantik rupawan, bertangan empat masing-masing memegang Wina(rebab) , Pustaka (rontal), Genitri (tasbih/Japa mala), dan bunga teratai. Beliau dilukiskan sedang berdiri di atas seekor angsa, dan di sebelahnya ada burung merak. Oleh umat Hindu di India ,pemujaan terhadap Dewi Saraswati dilakukan dalam Murti Puja. Sedangkan di Bali dan di Indonesia pada umumnya, pemujaan terhadap Beliau dilakukan dalam bentuk rerainan atau hari raya.
Hari Raya untuk memuja keagungan Dewi Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari (enam bulan) sekali, yaitu pada hari Saniscara (sabtu) Umanis, Watugunung. Perayaan hari Saraswati di lakukan sebagai media untuk mengingatkan dan menyadarkan umat manusia betapa pentingnya arti ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Pengetahuan merupakan alat penopang di dalam kita mengarungi kehidupan, serta untuk meningkatkan kualitas kehidupan material dan spiritual menuju kehidupan yang lebih baik. Ada lima aspek yang perlu kita cermati dalam perayaan Hari Raya Saraswati sebagai hari Ilmu pengetahuan.Yaitu :
1. Faktor Edukatif dan Inspiratif ;
Sebagai faktor Edukatif ; secara sadar mendorong seseorang untuk melakukan proses pembelajaran diri, introspeksi diri dan keberanian untuk mengevaluasi diri, untuk dapat mewujudkan peningkatan kualitas diri, demi kesejahteraan bersama dalam kehidupan di masyarakat.
Sebagai faktor inspiratif ; Dapat mengilhami seseorang untuk selalu berusaha agar ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat bermanfaat bagi orang banyak/ masyarakat.
2. Faktor Trasformatif ; Sebagai faktor Traspormatif ilmu pengetahuan hendaknya mampu mengubah sikap mental dan prilaku seseorang, kearah yang lebih baik, dan untuk mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan diantara sesama umat manusia.
3. Faktor Integratif ; sebagai faktor Integratif hendaknya ilmu pengetahuan dapat mendorong tumbuhnya suatu keyakinan yang utuh, yang tercermin dalam pengamalan berupa tingkah laku yang baik dan benar di masyarakat. Bila ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak didayagunakan sebagai faktor Integratif, tidaklah ada gunanya ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
4. Faktor Kreatif ;Sebagai Faktor Kreatif ilmu pengetahuan dapat mendorong seseorang untuk selalu berkreasi dan mengadakan pembaharuan pada diri dan lingkungannya, menuju kualitas hidup dan masa depan yang lebih baik, damai dan sejahtera lahir bhatin.
5. Faktor Motivatif ; Sebagai Faktor Motivatif ilmu pengetahuan mendorong umat manusia untuk menentukan sikap memilih yang baik dan benar, dan dapat memotivasi untuk meningkatkan SDM, melalui pembelajaran diri terus menerus.
Karenanyalah kita sebagai umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai sumber daripada ilmu pengetahuan. Pada hari Saniscara Umanis Watugunung, semua kitab suci utamanya Weda-weda dan sastra-sastra Agama di kumpulkan sebagai lambang sthana untuk pemujaan terhadap Dewi Saraswati, dengan menghaturkan upakara Saraswati sebagai sembah sujud bhakti kita atas adanya ilmu pengetahuan di dunia ini. Upakara yang paling inti daripada upakara Saraswati terdiri dari : Banten Saraswati , Daksina , Pras, Ajuman putih kuning, Wewangian, dan air kumkuman (air kembang). Sesuai petunjuk lontar Sundharigama hendaknya upacara persembahan kepada Dewi Saraswati dilaksanakan pada pagi hari.
MITOLOGI DAN FILOSOFI.
Upakara dan upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali, sesunguhnyalah memiliki nilai-nilai filosofis, dan para generasi Hindu tidak henti-hentinya diarahkan untuk memahami filosofi yang tersembunyi di balik semua upacara tersebut. Sebab sesungguhnya ajaran-ajaran agama Hindu lebih banyak di sampaikan dalam bentuk upacara, yang mana perlu terus dikupas untuk mendapatkan makna yang terkandung di dalamnya.
Secara etimologi, kata Saraswati sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata « Saras » yang berarti sesuatu yang mengalir, seperti air ataupun ucapan. Sedangkan kata »Wati » berarti memiliki. Jadi kata Saraswati berarti sesuatu yang terus mengalir, atau sebagai suatu ucapan yang terus mengalir. Bagaikan ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya untuk di pelajari.
Sebuah kata atau ucapan baru akan mempunyai makna lebih bilamana didasari oleh ilmu pengetahuan. Sebab hanya ilmu pengetahuan (dalam arti luas) yang mampu menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh kebijaksanaan yang merupakan landasan untuk mencapai suatu kebahagiaan lahir bhatin (Ananda).
Pada saat pelaksanaan upacara hari raya Saraswati, umat Hindu di Bali khususnya merayakan dengan menghaturkan upakara kepada tumpukan lontar-lontar dan kitab sastra-sastra agama, serta buku-buku ilmu pengetahuan lain, sebagai wujud syukur atas ilmu pengetahuan yang telah terbit menerangi kehidupan manusia. Umat Hindu memandang » Aksara » sebagai lambang sthana Sang Hyang Aji Saraswati. Aksara yang termuat dalam bentuk lontar ataupun buku-buku adalah serangkaian huruf-huruf yang membentuk ilmu pengetahuan baik Apara Widya maupun Para Widya.
Apara widya adalah segala pengetahuan yang mengetengahkan tentang ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang keberadaan Bhuwana agung dan Bhuwana alit.
Para Widya adalah ilmu pengetahuan yang mengajarkan tetang hakekat Ketuhanan itu sendiri.
Di Bali dan di Indonesia pada umumnya tidak terdapat pelinggih khusus untuk memuja Sang Hyang aji Saraswati. Gambar maupun patung Dewi Saraswati yang kita kenal saat ini berasal dari India. Ada yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang duduk, ada pula yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang berdiri di atas seekor angsa dan bunga teratai. Pun ada yang melukiskan Beliau berdiri di atas setangkai bunga teratai (Padma), dengan ditemani seekor angsa dan merak yang berdiam di kedua sisinya atau mengapit Beliau. Perbedaan versi tersebut bukanlah suatu masalah yang harus di permasalahkan atau di perdebatkan. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai simbol-simbol yang ada untuk memperoleh sari-sari filosofis yang termuat di dalamnya.
Dewi Saraswati yang digambarkan sebagai seorang Dewi yang cantik rupawan, dimaksudkan untuk menyatakan dan melambangkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang demikian menarik dan mengagumkan, sehingga banyak yang tergila-gila untuk mengenalnya. Maka dari itu, seseorang yang dipenuhi oleh ilmu pengetahuan akan memancarkan aura daya tarik yang luar biasa, yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk mendekat. Dalam Kekawin Niti sastra dikatakan bahwa : Orang yang tanpa ilmu pengetahuan, amatlah tidak menarik ,meskipun masih muda usia ,berwajah tampan, dari keturunan yang baik ataupun bangsawan, karena orang seperti itu ibarat bunga teratai yang berwarna merah menyala namun tidak mimiliki bau yang harum, yang mampu menarik kumbang-kumbang untuk mendekat ,tiadalah gunanya.
Cakepan atau Lontar yang di bawa oleh Dewi Saraswati merupakan perlambang dari ilmu pengetahuan.
Genitri/Japa Mala , melambangkan bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnyalah sesuatu yang tiada akhirnya, tidak akan ada habis-habisnya untuk di pelajari, bagaikan putaran sebuah genitri/japamala yang tiada terputus.
Wina/Rebab adalah sejenis alat musik yang suaranya amat merdu dan melankolis, sebagai perlambang bahwa ilmu pengetahuan mengandung suatu keindahan dan nilai estetika yang sangat tinggi.
Bunga Padma/Teratai berdaun delapan adalah lambang dari pada Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa dengan Asteswarya-Nya,dan juga merupakan lambang kesucian yang menjadi hakekat daripada ilmu pengetahuan.
Angsa adalah sejenis unggas yang dikatakan memiliki sifat-sifat kebaikan , kebersamaan dan kebijaksanaan. Mereka memiliki kemampuan untuk memilih makanannya, meskipun makanan itu bercampur dengan lumpur atau air kotor. Yang dimasukkan kedalam perutnya hanyalah makanan-makanan yang baik saja, sedangkan yang kotor dan merugikan disisihkannya. Demikianlah seseorang yang telah memahami hakekat kesujatian dari ilmu pengetahuan, akan dapat memilah-milah secara bijak hal-hal yang baik dan benar serta menyisihkan hal-hal yang buruk.
Burung Merak adalah perlambang suatu kewibawaan, sehingga seseorang telah memahami hakekat ilmu pengetahuan dengan baik dan benar akan memancarkan aura kewibawaan, disegani dan dihormati oleh masyarakat.
Hari Raya Saraswati dan Kaitannya Dengan Keberadaan Pura Bale Agung.
Dalam rontal Purwadhi Gama Sesana yang memuat tentang keberadaan Dewi Saraswati serta kaitannya dengan keberadaan Pura Bale Agung di Desa Pakraman, diceritakan sebagai berikut :
Di ceritakan pada saat para Dewa-Dewa (Bhatara kabeh) di perintahkan oleh Sang Hyang Adhisuksma (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) untuk turun ke bumi dan mengajarkan umat manusia tentang hidup dan kehidupan, secara bersamaan Sang Hyang Iswara juga turun ke bumi, bertugas mengajarkan umat manusia di Desa Pakraman. Pada saat itu Beliau bernama Sang Hyang Ramadesa, bersthana di Pura Desa dan diiringi oleh Sang Hyang Catur Loka Phala, Sang Hyang Ramadesa kemudian memerintahkan salah satu pengikutnya yang bernama Bhagawan Wiswakarma, untuk membangun Salu Agung Apanjang, yang kita kenal sekarang dengan sebutan Bale Agung, yang merupakan tempat atau sthana Sang Hyang Ramadesa mengajar umat manusia (krama Desa Pakraman). Pada saat itu murid-murid Beliau tidak mampu menerima semua pelajaran-pelajaran yang di berikan oleh Beliau, karena pada saat itu umat manusia tidak merasa tertarik untuk mempelajari ilmu pengatahuan, sehingga semua pelajaran yang di berikan oleh Sang Hyang Ramadesa tidak bisa di pahami, masuk kanan keluar kiri. Dengan melihat keadaan umat manusia sedemikian rupa, Sang Hyang Ramadesa lalu pergi menghadap kepada Bhatara Brahma ,untuk memohon kehadapan Beliau agar berkenan mengijinkan sakti Beliau yaitu Dewi Saraswati untuk diajak oleh Sang Hyang Ramadesa mengajar umat manusia di Desa Pakraman. Dengan senang hati Bhatara Brahma menyambut baik permohonan Sang Hyang Ramadesa, dan mengijinkan Dewi Saraswati ikut menemani Sang Hyang Ramadesa.
Sesampainya Beliau berdua di Desa Pakraman atau di Bale Agung, kemudian Dewi Saraswati berkenan masuk kedalam relung hati umat manusia yang paling dalam (Bersthana didalam Intelektual manusia). Pada saat itu Sang Hyang Saraswati bernama Sang Hyang Drathidewi atau Sang Hyang Dredhadewi. Setelah Dewi Saraswati bersthana didalam intelektual umat manusia, mulailah kemudian timbul gairah atau keinginan dalam diri manusia untuk mengikuti pelajaran yang di berikan oleh Sang Hyang Ramadesa. Semenjak itu Sang Hyang Ramadesa berganti nama, dan bernama Sang Hyang Gurudesa, karena Beliau sebagai Guru yang memberikan pelajaran kepada umat manusia di Desa Pakraman.
Dengan melihat begitu semangatnya umat manusia di Desa pakraman untuk mengikuti pelajaran, maka kembali Beliau memerintahkan Bhagawan Wiswakarma untuk membangun pelinggih lagi sebagai sthana Bhatari Sri Gurunini dan Bhatari Sedhana yang bertempat di hulu Salu Agung Apanjang (Bale Agung). Ida Bhatari Sri Gurunini bertugas mengajarkan umat manusia terutama para wanitanya, tentang ilmu pengetahuan untuk menopang kehidupan dan ilmu pengetahuan tentang Swadharmaning pawistri. Bhatari Sedhana bertugas mengajarkan umat manusia tetang ilmu ekonomi, serta memberikan sedhana atau rejeki kepada umat manusia sesuai dengan karma-karma mereka. Beliau bertiga juga di sebut sebagai Bhatari Tri Purusa Dewi, yaitu Bhatari Sri, Bhatari Sedhana dan Bhatari Saraswati. Demikianlah secara singkat cerita hubungan antara Hari Raya Saraswati dengan keberadaan Pura Bale Agung.
Perayaan Hari Raya Saraswati sesungguhnya berlanjut terus sampai hari Tumpek Landep. Keseluruhan dari hari-hari tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sebagai pemaknaan dalam proses pembelajaran diri. Rangkaian upacara tersebut yakni :
Hari Raya Saraswati (Saniscara Umanis Watugunung).
Merupakan perayaan sebagai penghormatan kita dengan turunnya Dewi Saraswati sebagai perlambang ilmu pengetahun atau Hyang-Hyanging Pangawruh.
Banyu Pangewruh/Pinawruh(Redite Pahing Sinta)
Dirayakan sebagai rasa hormat kita atas berkenannya Sang Hyang Gurudesa (Iswara guru) melimpahkan pangewruhnya atau ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Dengan melakukan penyucian diri. Sebab tanpa bimbingan Beliau maka akan sangat sulit sesorang untuk dapat memahami keberadaan ilmu pengetahuan yang di pelajari. Oleh karena itu peran seorang Guru sangatlah penting dan mulia adanya sehingga wajib untuk di hormati.
Soma Rebek (Soma Pwon Sinta)
Dirayakan sebagai rasa hormat kita kehadapan Bhatari Sri Gurunini yang berkenan mengajarkan ilmu pengetahuan tentang penghidupan, ilmu pertanian (ilmu tentang kamerthan) kepada umat manusia, sebagai sarana untuk menopang kehidupan umat manusia. Beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu tentang kewanitaan atau Swadharmaning pawistri.
Sabuh Mas Sabuh perak (Anggara Wage Sinta)
Dirayakan sebagai perlambang penghormatan kita kehadapan Sang Hyang Mahadewa dan Bhatari Sedhana atas jasa-jasa Beliau yang telah mengajarkan umat manusia tentang ilmu ekonomi atau ilmu pebankan (menabung), serta tentang manfaat harta benda dalam menyokong kehidupan umat manusia. Beliau bertugas memberikan berkah atau rejeki kepada umat manusia sesuai dengan karma-karma mereka.
Hari Pager Wesi(Buda Kliwon Sinta).
Perayaan hari Pagerwesi sebagai perlambang beryoganya Sang Hyang Paramesthi Guru. Dan merupakan penghormatan kita kehadapan Beliau, dengan jalan mendekatkan diri melalui Tapa, Brata, Yoga dan Samadhi, sebagai jalan untuk melakukan introspreksi diri (mulat sarira) dan mengevaluasi diri demi terciptanya Pagar yang kuat (Pagerwesi) dalam diri kita, untuk dapat mewujudkan keharmonisan hidup ”Tri Hita Karana” Keharmonisan antara manusia dengan Sang Pencipta (Tuhan), Keharmonisan antara manusia dengan sesama umat manusia, keharmonisan manusia dengan alam lingkungannya. Untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Tumpek Landep(Saniscara Kliwon Landep)
Perayaan hari Tupek Landep merupakan penghormatan kita sebagai hari turunnya Sang Hyang Pasupati, sebagai Dewa ketajaman (Hyang-Hyanging Lelandep). Tumpek Landep merupakan hari pemberkahan atau hari samskara (penyucian). Pada hari ini kita mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Sang Hyang Pasupati, agar Beliau berkenan memberkahi kita ketajaman pikiran/intelektual serta perkataan/ucapan kita. Tanpa di berkahi ketajaman pikiran dan perkataan sulit bagi kita untuk memahami dan menghayati segala ilmu pengetahuan yang kita pelajari, serta menjabarkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengacu pada mitologi atau cerita diatas, rasanya sangatlah tepat bagi kita untuk merayakan Hari Raya Saraswati dilaksanakan di Pura Desa atau di Pura Bale Agung, sebagai sthana Sang Hyang Gurudesa (Sang Hyang Iswara Guru) yang merupakan Guru bagi umat manusia. Juga sebagi sthana turunnya Dewi Saraswati yang kemudian merasuki sanubari setiap insan manusia.
Perayaan Hari Raya Saraswati sesuai petunjuk lontar Purwadhi Gama Sesana, adalah bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas kita sebagai umat manusia, agar tercapai keseimbangan jiwa yang bermoral tinggi, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam tutur Purwadhi Gama Sesana juga di sebutkan bahwa yang menggantikan Sang Hyang Iswara Guru/Sang Hyang Gurudesa bersthana di Pura Bale Agung adalah putra Beliau yang bernama Sang Hyang Bregalungan. Dimana kata “ Bregalungan” memiliki makna sebagai berikut:
“Bre” artinya menumbuhkan.
“Ga” artinya Kebaikan atau kesucian.
“Lungan”artinya perbuatan atau prilaku.
Dengan demikian “Bregalungan”artinya agar senantiasa dapat menumbuhkan perbuatan-perbuaan yang baik dan benar yang berlandaskan ajaran Dharma.
Hari Raya Saraswati hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan pembelajaran diri dengan menumbuhkan perilaku atau perbuatan-perbuatan yang baik dan benar berlandaskan Dharma.
Demikianlah sekilas uraian tentang makna perayaan Saraswati sampai hari Tumpek landep, serta kaitannya dengan keberadaan Pura Bale Agung di Desa Pakraman di Bali. Semoga uraian singkat ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi umat sedharma. Dan tak lupa saya mohon maaf atas keterbatasan saya dalam menyajikannya.
Suksma.

*sumber :
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=456518267728729&id=99393884544

Makna Galungan dan Kuningan

Makna Galungan dan Kuningan



Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :
"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".

artinya :
"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".

          Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.


Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
         Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.
Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.
Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.


Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
         Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).
Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.
Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :
"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".
Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.
Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).



Macam - Macam Galungan

A. Galungan
Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi
Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.
Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.


sumber :
Parisada Hindu Dharma Indonesia
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=372&Itemid=2